MENIKMATI SEKARANG

Desember 8, 2013 at 11:42 am (Uncategorized)

Segala sesuatu yang diciptakan adalah ketidakabadian. Sebagai ciptaan yang paling mulia, manusia mempunyai aneka cara untuk menikmati hidupnya. Ada yang menikmatinya dengan berbagi hasil korupsi. Ada yang menikmatinya dengan hidup bersama tujuh istri. Ada yang menikmatinya dengan merencanakan bagaimana saya bisa mengambil kesempatan untuk mencari untung sebanyak-banyaknya. Ada pula yang menikmatinya dengan berbuat sesuka hati saya untuk mengumbar semua nafsu kedagingan dengan melakukan semua hal demi memenuhi kenikmatan daging saja. 

Namun, di samping jenis manusia yang disebutkan tadi, ada juga manusia yang menikmati hidup dengan memilih jalan yang berbeda. Orang-orang ini lebih memilih jalan yang damai, jalan emas, jalan keselamatan, jalan sukacita, jalan terang, jalan kasih, jalan nirwana, jalan spiritual. Orang-orang seperti ini lebih melihat hidup tidak sekedar hidup yang terjadi begitu saja. Namun melihat hidup sebagai sebuah hadiah dan anugrah Pencipta yang patut disyukuri. Dunia memiliki orang-orang yang seperti ini. Saya sangat yakin orang-orang ini pilihan Tuhan sebagai hadiah untuk dunia.

 Mungkin saya dan Anda bertanya : sedangkan saya masuk ke yang mana? Boleh dikatakan saya dan Anda mungkin perpaduan dari dua jenis tadi. Kita masih memikirkan kedagingan tetapi juga masih ingat bahwa hidup itu semua ada yang mengatur. Kita masih ingat akan Gusti Allah yang menciptakan kita dan kita tak mungkin bisa lepas dari pada-Nya.

 Saya baru mendapat pengetahuan tentang hal bagaiamana menikmati hidup dengan cara menikmati kekinian kita. Saya katakan ini baru pengetahuan, belum sampai pada pencerahan. Karena kalau pencerahan,  itu berarti saya sudah berada di tataran para spiritualist. Saya ini kan masih manusia biasa yang masih suka terbawa emosi dan tanpa sadar terjerumus dalam arus yang membawa saya pada kebiasaan-kebiasaan buruk yang menurut saya itu manusiawi. Contohnya ngerumpi: saya berpendapat itu adalah bagian dari pergaulan sosial. Biasa dalam hidup selalu minta dimaklumi. Bukan begitu, Jeng?

 Katanya (orang tua)  begini ni : hidup itu harus eling lan waspada.  Hidup setiap saat senantiasa dalam kesadaran, bukan hanya lima indra, tetapi menukik masuk sampai pada kesadaran dalam (intuisi). Katanya lagi,  orang yang hidup dalam kesadaran itu adalah orang yang hidup pada saat ini. Maksudnya adalah orang yang menikmati saat ini. Sungguh-sungguh berada total pada saat dia berada. Seberapa banyak orang yang penuh sadar menghayati momen kekinian (mindfulness) dan tidak tidak hidup di hari kemarin atau mengawang ke hari esok. Kita memang hidup dalam momen kini, tetapi apakah kita benar-benar menghayati kekinian tersebut?

 Yang diharapkan bukan suatu kesadaran yang tipis, tetapi kesadaran mendalam. Dari batin nurani,  kita menelusuri seluruh pikiran, ucapan, dan perbuatan selama bertahun-tahun kita hidup. Kita lakukan untuk melihat apakah selama kita hidup sekian tahun itu kita menikmati saat ini saya? Belum tentu. Saya sendiri seringnya ingat masa lalu. Atau justru melamun untuk masa yang akan datang. Dengan melakukan kegiatan dua hal tadi, sebetulnya saya sedang menyia-nyiakan masa kini saya. Saat yang paling tepat adalah momen kini.  Diperlukan introspeksi, keterbukaan, dan keberanian untuk berubah. Mengubah kebiasaan saya  untuk dapat melekat  ke masa kini,  diperlukan keyakinan bahwa hal itu memang perlu dan bermanfaat. Penting sekali pengendalian dan kemauan kuat, sebab kesadaran sendiri kerap pergi dan datang begitu saja.  

Potensi pencerahan ada pada setiap orang itu tidak sama. Demikian pula untuk memahami tentang pentingnya dan gentingnya masa kini, saat ini. Untuk itu perlu kesadaran penuh dengan penghayatan tetap akan sikap, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang benar terarah pada saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pola pikir 180 derajat: segala sesuatu terbagi menjadi dua hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak. Orang yang mempunyai budi 360 derajat adalah orang yang melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, melihat segala sesuatu lebih integratif, dan komperhensif, serta menyeluruh. Menurut para guru spiritual Zen, kalau kita hidup untuk menghayati  saat ini diperlukan pola pikir 360 derajat.

 Bagaimana kalau hidup itu ternayata tidak berjalan baik-baik saja? Yang patut disadari adalah bahwa waktu terus berjalan, mengalir, tanpa bisa dipanggil kembali. Baik yang kita hadapi adalah hidup yang pahit atau pun manis, yang sedang terjadi memang merupakan kenyataan yang harus diterima, betapa pun itu perih.

Dari sudut pandang orang beriman, selain kita memupuk kepercayaan diri dan berbuat baik untuk momen kini, sepatutnya orang merendahkan diri dan berseru kepada Sang Pencipta. Setelah segala daya upaya, maka berserah mendatangkan kedamaian hati. Kesulitan yang kita hadapi saat ini hadapi dengan penuh syukur. Itulah mungkin yang dikatakan Yesus tentang janganlah engkau kuatirakan hidupmu.

Setelah merancang masa depan, tekanannya kemudian kembali lagi ke masa kini. Orang tidak hanya puas dengan rumusan cita-cita, melainkan hidup sehari-hari dengan pelaksanaannya. Orang boleh saja melihat ke belakang untuk mengambil hikmah dan menatap horison masa depan untuk mencari arah, tetapi kemudian saya harus menyadari untuk menekuni momen sekarang yang saya miliki. Dengan pergumulan momen kini, akhirnya dapat diketahui mana rencana yang dapat dipertahankan dan mana yang perlu diubah atau mungkin tibatalkan.

 Dengan hidup di saat ini berati memungkinkan orang untuk memandang ke belakang dan menatap ke masa depan dengan penuh harapan. Di situ letaknya orang bisa merefleksikan hidupnya. Hidup di saat ini membuat orang untuk melakukan semuanya dengan baik, bahkan sangat baik. Saya pernah mendengar perkataan: jalanilah hidupmu hari ini seolah-olah besok engkau akan mati dan seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi. Saya melihatnya bahwa menjalani hidup seolah-olah besok  akan mati yaitu menjalani hari ini dengan sangat baik,  berusaha berbuat kebajikan, berusaha tidak berbuat dosa,  agar kalau besok saya mati, saya masuk surga. Sikap hidup seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi yaitu melakukan segala sesuatu dengan penuh perhitungan, dengan teliti, dengan sempurna. Karena kalau saya melakukannya dengan sembrono, pastinya  akan berakibat bagi hidup saya yang akan berlangsung sekian lama itu. Saya berhati-hati agar yang saya lakukan itu tidak mendatangkan celaka kepada diri saya atau keturunan saya.

Akhirnya saya mengakhiri obrolan saya kali ini tentang hidup pada saat ini dengan sebuah puisi klasik.

 Serenity Prayer

God grant me the serenity

To accept the things I can not change,

The courage to change the things I can,

And the wisdom to know the difference.

Living one day at a time

Enjoying one moment at a time.

                                                                               ( Reinhold Neibuhr: 1892-1973)

 

Kira-kira artinya adalah…:

 Tuhan anugrahilah aku kejernihan hati 

Untuk menerima hal-hal  yang tidak dapat aku ubah

Dan berilah keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah

Serta  kebijaksanaan utk mengetahui perbedaannya

Hidup pada hari ini untuk menikmati saat ini

Menikmati satu saat dalam kekinian.

( Ch. Enung Martina –  awal September 2013)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KISAH DI BALIK PASKAH

Juli 28, 2013 at 12:42 pm (Uncategorized)

Bagi orang Yahudi kuno, mengenangkan sebuah peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya. Sebaliknya, mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Demikian pula ketika orang Yahudi mengenang perayaan Paskah Yahudi setiap tahun, mereka melakukannya lebih dari sekedar mengingat peristiwa pembebasan leluhur mereka dari mesir. Namun, lebih dari itu, dengan mengenangkannya, mereka membawa peristiwa itu memasuki masa kini dan menghidupinya kembali. Dengan cara ini mereka menerima berkat yang sama dari peristiwa tersebut seperti yang diterima para leluhur mereka dulu.

Paskah Yahudi dilakukan pada malam hari, tepat setelah munculnya bintang-bintang pertama. Itulah sebabnya setiap orang merayakannya pada saat yang sama sebagai sebuah keluarga. Ketika bintang-bintang pertama bermunculan 2000 tahun yang lalu, Yesus bertindak sebagai seorang bapak, memulai rangkaian perayaan Paskah Yahudi. Cara yang Dia lakukan cukup mencengangkan para murid yang ikut bersama-Nya kala itu. Dia melakukan ritual itu dengan membuka jubah luar-Nya dan membasuh kaki para rasul-Nya.

Bagi orang Yahudi, membasuh kaki orang lain adalah tindak perendahan diri. Hanya para budaklah yang membasuh kaki orang lain. Itulah sebabnya tindakan Yesus  membekaskan suatu perasaan yang mendalam dalam diri para rasul.

Dalam Paskah Yahudi biasanya digunakan anggur merah untuk mengenangkan ambang pintu bertandakan darah di Mesir pada masa Musa membebaskan orang Israel. Perjamuan Yahudi biasa  dimulai dengan pemecahan roti terlebih dahulu. Namun, pada saat Paskah Yahudi, perjamuan dimulai dengan makan sayur pahit. Sayuran pahit mengingatkan tahun-tahun perbudakan yang getir di tanah Mesir. Kemudian perjamuan dilanjutkan dengan makan roti tak beragi untuk mengingatkan keberangkatan yang tergesa-gesa keluar dari Mesir.

Mari sekarang kita mengaitkannya dengan tokoh utama kita, Yesus. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus mengadakan perjamuan bersama para rasul-Nya. Perjamuan itu tak terlupakan oleh mereka. Perjamuan tersebut merupakan cikal bakal Ekaristi yang setiap minggu kita ikuti.Semoga perjamuan Ekarisisti tidak hanya sekedar menerima hosti yang menjadi tradisi Gereja Katolik saja, tetapi bisa dimaknai mendalam. Seperti halnya orang Yahudi yang mengenagkan peristiwa religius mereka dengan keyakinan bahwa  mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Paskah Kristen berbeda dengan Paskah Yahudi. Paskah Kristen mengingatkan kita pada peristiwa Kebangitan Yesus dari kematian. Kematian Yesus diuraikan oleh Mark Link, SJ dalam bukunya Journey sebagai tanda, undangan, dan pewahyuan. Dikatakan tanda karena kematian Kristus merupakan tanda kedalaman kasih Yesus kepada manusia dan tanda ketaatan sekaligus kasih  kepada Bapa. Dikatakan sebagai undangan karena kematian-Nya merupakan undangan untuk saling mengasihi seperti yang telah dicontohkan sendiri oleh-Nya. “ Kasihilah satu sama lain seperti Aku mengasihimu.” (Yoh. 15:12). Dinyatakan sebagai pewahyuan karena kematian Kristus mewahyukan tentang kasih yang sering dilupakan. Sekaligus juga mewahyukan bahwa cinta menuntut penderitaan. Dari kita dituntut untuk mengikuti-Nya tanpa cerewet. “Barang siapa mau mengikut  Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” ( Mark. 8:34)

Bagaimana dengan kita sendiri berkaitan dengan Paskah ini? Sebagai orang Katolik memang kita menjalani ritual yang selayaknya secara liturgis dijalani. Namun, terkadang hanya sebatas ritual. Meskipun begitu, saya masih melihat sisi lain bahwa baiklah itu, orang Katolik pada Pekan Suci rajin datang ke gereja untuk mengikuti semua ritual. Itu tandanya ada niat baik. Bahkan orang yang jarang terlihat pun datang ke gereja. Alangkah baiknya bila niat baik untuk mengikuti rangkaian Pekan Suci itu juga dibarengi dengan sikap hati yang ditunjukkan dengan perilaku. Lebih elok lagi bila akhirnya semua kegiatan liturgis itu menjadi tanda perubahan dalam sikap dan tingkah laku kita keseharian. Semangat Paskah membawa kita pada sikap hidup yang baik. Paskah membawa kita lebih membuka hati pada Bapa  untuk berelasi dengan-Nya , merasakan kasih-Nya, dan mensyukuri  kasih-Nya.

Setiap upacara liturgi yang kita ikuti kiranya mampu membawa kita mengenangkan peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya, tetapi membawa kita mengingat peristiwa tersebut masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman. AMIN.

(Ch. Enung Martina) 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MENYOAL PANGAN

Februari 26, 2013 at 9:02 am (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , )

Ch. Enung Martina

Dimuat dalam Majalah Komunika edisi November-Desember 2012

BENQ DIGITAL CAMERA

Bagi umat Paroki Santa Monika yang termasuk surplus, pangan bukan persoalan yang mengkuatirkan. Kalau pun mungkin ada permasalahan, biasanya  berkaitan dengan ketidakseimbangan gizi karena pola makan yang salah dan berlebih yang akibatnya berkaitan dengan obesitas  atau timbulnya beberapa penyakit yang menyertainya. Kali  ini saya akan berbicara tentang pangan yang setiap harinya kita konsumsi. Hal ini menyangkut tentang Hari Pangan Sedunia yang bulan Oktober lalu diperingati di seluruh dunia, juga di paroki kita.

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan bagian terintegrasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) yang didirikan tahun 1945. Karena itu FAO adalah forum netral yang beranggotakan baik negara berkembang maupun negara sedang berkembang. Karena itu,  semua anggota adalah setara ketika duduk bersama merundingkan persetujuan dan memperdebatkan kebijakan tentang pangan dan pertanian.

Tema hari pangan sedunia, tanggal 16 Oktober 2012 adalah “Agricultural Cooperatives – Key to Feeding The World”. Tema ini dipilih untuk menunjukkan peran “kerjasama” dalam memperbaiki ketahanan pangan dan kontribusinya dalam usaha menghapuskan kelaparan dari muka bumi. Informasi ini  saya ambil dari http://www.setkab.go.id.

Saya tergelitik dengan kata menghapuskan kelaparan dari muka bumi. Mengapa? Masalah pangan dari waktu ke waktu terus membayangi bumi ini. Ada banyak penyebab yang ketika dirunut ujung-ujungnya berakhir pada keserakahan manusia yang memanfaatkan alam tidak dengan bijaksana. Saya dan Anda termasuk bagian dari manusia itu.

Yang akan kita lihat di sini adalah berkaitan dengan kita memperlakukan pangan dan mengonsumsi pangan keseharian kita. Tanpa kita sadari,  kita mengonsumsi pangan tidak dengan bijaksana. Seperti yang saya alami, sering kali tidak menyadari bahwa pangan yang saya makan mempunyai  andil yang besar untuk menunjang hidup fisik saya di dunia. Ketika kita makan, hanya sekedar makan. Seharusnya saya menyadari bahwa makanan itu berkat dari Tuhan yang perjalanannya sampai di piring saya begitu panjang. Prosesnya melibatkan keringat bahkan air mata dari beberapa orang.

Mari kita melihat perjalanan makanan yang ada pada suapan kita. Saya mengambil contoh sepiring nasi ( makanan pokok kita) yang siap santap. Dimulai dari bulir-bulir gabah yang ditebarkan petani di lahan persemaian. Sesudah itu menunggu beberapa minggu (lebih kurang 3 minggu) benih dicabut. Kemudian benih padi ditanam di sawah yang sebelumnya sudah dicangkuli agar tanahnya gembur. Proses berikutnya menunggu beberapa minggu untuk dipupuk. Setelah itu ditunggu beberapa minggu untuk disiangi rumput yang tumbuh di sela-selanya. Lanjut cerita padi dinantikan hingga berbunga, berbulir, dan menguning bernas. Pada masa pertumbuhannya petani tak henti memperhatikan air yang menggenaninya agar tumbuh dengan sempurna.  Bila petani menanam padi bibit unggul, 4 bulan kemudian baru bisa dipanen. Tidak selesai di situ, padi akan dirontokkan untuk diambil gabahnya. Selanjutnya gabah ditampi untuk memisahkan yang tak berisi dengan yang bernas. Gabah kemudian dijemur hingga kering. Berikutnya gabah dibawa ke penggilingan untuk digiling jadi beras. Baru sesudah jadi beras didistribusikan  ke kota/warung. Beras kita beli dan kita tanak menjadi nasi. Akhirnya nasi siap di piring saya dan Anda untuk disantap. Begitu jauhnya perjalanan sebutir nasi.

Namun,  terkadang kita abai terhadap pangan  dengan membuang – buang makanan. Saya memperhatikan pada saat orang makan di sebuah pesta. Orang merasa bahwa kalau tidak suka sejenis makanan boleh membuangnya. Orang mengambil makanan tanpa peduli apakah nanti dihabiskan atau tidak. Begitu merasa tidak suka makanan itu, lantas orang membuangnya.

Menghargai pangan belum menjadi bagian dari budaya kita, terutama di kalangan menengah ke atas . Banyak orang tua yang belum memberikan pendidikan tentang menghargai pangan dalam keluarga, dalam hal ini termasuk juga belum adanya pendidikan tentang makanan sehat.  Selama ini, bila saya perhatikan bekal anak-anak di sekolah, banyak yang membawa  makanan yang praktis: mi goreng, nasi dengan nuget, nasi dengan telur atau ayam saja, nasi goreng ditambah bakso, roti, donat (yang dibeli tadi malam) , biskuit, atau apa pun makanan yang mudah disajikan, tetapi tak memperhatikan nilai gizi.

Namun,  akhir-akhir ini, di beberapa sekolah,  saya melihat mulai banyak yang peduli tentang pendidikan nilai menghargai pangan. Saya ambil contoh di Santa Ursula BSD. Di TK, SD, dan SMP  ada program membawa sayuran dan buah setiap hari tertentu. Program ini bertujuan mengajarkan makan makanan sehat pada anak-anak.  Selain itu  di SMP, OSIS mempunyai program membawa makanan dengan bahan nonberas dan nonterigu. Tujuan program ini untuk memperkenalkan keanekaragaman pangan,  Saya melihat anak-anak membawa aneka makanan yang terbuat dari umbi-umbian. Ternyata mereka makan ubi tersebut  dengan lahapnya. Beberapa anak yang biasanya tak mengenal makanan rakyat jelata seperti singkong,  karena program serkolah, akhirnya bisa merasakan  makan panganan rakyat tersebut.

Di atas adalah contoh bahwa sudah ada upaya untuk mengarah pada menghargai pangan. Selain itu banyak juga sekolah yang melakukan program dalam rangka memperingati Hari Pangan dengan  mengadakan kolekte atau mungkin aksi yang lain untuk menggalang sumbangan yang akan disalurkan  pada lembaga atau orang yang membutuhkan. Syukur pada Tuhan, sudah ada upaya untuk menggarah pada gerakan peduli orang yang kekurangan pangan.

Namun, menghargai pangan hendaknya tidak berhenti pada saat peringatan Hari Pangan saja, setiap saat tetap konsisten untuk melakukannya. Kita belajar untuk mengkonsumsi makanan sehat, makan dengan tidak berlebih, tidak menyia-nyiakan makanan, dan juga peduli pada orang di sekitar yang kekurangan pangan. Sebagai orang tua,  juga kita belajar untuk menyampaikan nilai ini secara terus-menerus kepada anak-anak kita.

Ada banyak kisah dalam Al Kitab yang berbicara tentang pangan. Yang paling terkenal adalah kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, kisah lima roti dua ikan, dan yang setiap saat kita peringati dan rasakan adalah EKARISTI. Dalam peristiwa konsekrasi, roti yang menjadi Tubuh Kristus dan anggur yang menjadi Darah-Nya, merupakan bukti nyata bahwa Tuhan kita peduli akan soal pangan. Tak hanya makanan jasmani, namun jauh daripada itu yaitu makanan rohani kita. Yesus bersabda  bahwa daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Sungguh menjadi bukti kepedulian Tuhan akan kita.

Dengan mengacu akan hal itu,  saya akan menjalankan niat saya untuk memperhatikan asupan makanan bagi diri saya sendiri terutama, juga untuk keluarga saya. Saya akan belajar makan makanan sehat.

Berbicara tentang makanan sehat, saya pernah mengikuti sebuah seminar yang menyarankan kita pantang terhadap beberapa makanan berkarbohidrat tinggi/jenuh, seperti nasi, ubi-ubian, dan aneka tepung. Narasumbner menyarankan untuk  makan makanan yang segar yaitu tanpa mengalami begitu banyak proses, seperti dimasak, fermentasi, dan diawetkan. Makanan sehat yang sangat disarankan adalah makan salad aneka sayuran dan buah segar.

Saya sependapat, tetapi sepertinya saya belum bisa melepaskan aneka makanan berkarbohidrat. Saya ini orang kampung yang lidahnya suka dengan umbi-umbian dengan aneka macam produknya. Memang berat juga kalau drastis beralih begitu saja.

Sebetulnya dalam seminar tersebut saya agak tersinggung dengan kata-kata narasumber yang mengatakan bahwa orang yang makan nasi itu seperti unggas dan yang makan ubi-ubian itu adalah kuda nil. Wow…, ternyata saya tergolong keduanya.

Agak bertentangan memang dengan pendapat narasumber lain yang pernah saya baca tentang umbi-umbian yang sangat banyak manfaatnya. Saya memberikan satu contoh umbi yaitu ubi jalar dengan berbagai khasiatnya. Kandungan kimia pada ubi jalar adalah protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam nikotinat. Ubi jalar sangat kaya akan antioksidan yang bermanfaat utuk kekebalan tubuh, anti peradangan, meredakan asma, menyembuhkan bronchitis, mengatasi arthritis, membantu melancarkan  pencernaan, menyembuhkan berbagai jenis kanker, mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh, efektif dalam meregulasi kadar gula darah, betakaroten (terutama ubi merah)  sangat baik untuk mata. Nah, lihat  begitu banyak manfaatnya. Itu baru satu jenis ubi, Kita belum melihat khasiat ubi-ubi lain yang jenisnya begitu banyak tumbuh di tanah air kita tercinta ini.  O, ya perlu diingatkan ubi jalarnya tidak digoreng lho, lebih ciamik kalau dikukus.

Akhirnya dari saran di atas, saya memilih jalan tengah, tidak terlalu plek persis seperti apa yang dianjurkan narasumber tersebut, yaitu beralih menjadi pemakan aneka makanan mentah. Sebenarnya saya juga pemakan sayuran mentah karena saya orang Sunda. Saya  tetap melanjutkan makan makanan pokok yaitu nasi dan juga ubi-ubian tadi. Tidak mengapa saya  digolongkan unggas dan kuda nil oleh seorang narasumber seminar tadi. Saya tetap percaya semua makanan yang dijadikan Allah itu baik adanya, hanya kita hendaknya bijaksana untuk mengonsumsinya. Dengan begitu,  saya tahu bahwa dengan menghargai pangan, juga berarti menghargai alam dan Sang Pencipta. Yang tentunya diharapkan juga kita menaruh empati bagi orang lain yang kekurangan pangan dengan memberi bantuan. Itulah bagian dari ekspresi iman dengan  memberi bantuan  semampu kita.

Jelupang, akhir Oktober 2012

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

WISATA LINGKUNGAN

September 30, 2012 at 10:46 am (Uncategorized) (, , , )

Minggu, 30 September 2012, Bina Iman anak dan Bina Iman Remaja Santo Silverius, Paroki St. Monika, Serpong,  mengadakan kegiatan wisata lingkungan. Acara tersebut diberi nama ” Mengalami Kasih Tuhan di Alam Terbuka”.  Dalam kegiatan ini anak-anak diajak untuk mengalami kebersamaan dengan teman-teman dan mengenal lingkungan alam.

Kegiatan ini dimulai dari pukul 07.30 di Rumah Serbaguna lingkungan dengan doa pembukaan. Setelah itu rombongan berangkat bersama dengan beberapa kendaraan orang tua murid. Sesampainya di lokasi, acara dilanjutkan dengan menjelajah Taman Kota 2. Anak-anak bersama orang tua dan guru pendamping berjalan kaki sambil melihat alam sekitar. Anak-anak sangat antusias mengikuti jelajah alam ini. Apalagi ketika melihat 8 ekor kerbau yang sedang mandi di sungai, mereka sangat tertarik.

Ketika jelajah alam selesai, acara dilanjutkan dengan pelajaran dan aneka permainan yang dibawakan oleh Bapak Eko dan Ibu Monik. Dalam acara ini juga disisipkan kuis Kitab Suci yang tentunya berhadiah berbagai alat tulis.

Acara berikutnya, dilanjutkan dengan makan bersama dan acara bebas. Anak-anak diberi kebebasan untuk bermain. Ada yang bermain futsal, naik pohon, melihat sungai, menyusuri bantaran sungai, menyebrangi jembatan, atau sekedar duduk-duduk di bawah pohon yang rindang.

Ketika matahari semakin terik, diputuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Berakhirlah acara jalan-jalan pada hari ini. Semua senang dan gembira. Yang paling penting anak-anak belajar bahwa betapa agungnya Tuhan Sang Pencipta alam.  Sampai bertemu pada acara jalan-jalan berikutnya!  ( Ch. Enung martina)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BINA IMAN ANAK

Juli 31, 2012 at 1:11 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , )

Posted by Ch. Enung Martina

Bina Iman Anak Lingkungan Santo Silverius sudah dua bulan ini (Juni-Juli 2012) libur. Minggu, 29 Juli 2012 sudah mulai mengadakan kegiatan lagi. Bila sebelumnya St. Silverius bergabung dengan lingkungan terdekat yaitu St. Pius X, kini kegiatan diadakan sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk pengembangan masing-masing lingkungan.

Pada pertemuan perdana di tahun ajaran 2012-2013, anak-anak Bina Iman Santo Silverius memulainya dengan perikop tentang Yesus memberi makan lima ribu orang.

Sesudah bernyanyi Dalam Yesus Kita Bersaudara dan berdoa pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan mendengarkan cerita tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang.  Aktivitas lanjutan untuk menanggapi dan mengapresiasi cerita tersebut adalah membuat kreasi karya berupa lima ketul roti dan dua ikan dari kertas berwarna yang digunting dan ditempel pada kertas bekas pakai (kertas pagi-pakai lagi). Sesudah itu dilanjutkan dengan berekspresi gerak dan lagu: Lima Roti dan Dua Ikan. Satu jam berlalu. akhirnya kegiatan pun berakhir. anak-anak kembali ke rumah sesudah doa penutup dan pengumuman dari pendamping.

Di bawah ini beberpa gambar kegiatan Bina Iman Santo Silveriua pada hari Minggu, 29 Juli 2012.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DUNIA MAYA VERSUS DUNIA NYATA

Juni 20, 2012 at 6:57 am (Uncategorized) (, , )

Sumber : HIDUP BARU

Suatu kali saya menyaksikan dua pemandangan yang kontras yang jelas membuat diri saya jengkel bercampur kesal dan di sisi lain membuat saya senang dan gembira. Asyik menikmati makan siang di restoran sederhana saya melihat dua keluarga masuk menuju restoran yang sama. Saya yakin bahwa mereka baru saja datang dari sekolah yang sama untuk menjemput anak-anak. Satu keluarga mengambil meja persis di bagian sudut restoran dan yang lain mengambil meja di samping saya.

Keluarga yang duduk di sudut restoran, selekas memesan makanan, mereka ayik sendiri. Suami asyik dengan BB-nya, si ibu lebih sibuk lagi dengan BB-nya juga. Bagaimana dengan si anak? dia juga sibuk dengan gamenya. Sayang sekali mereka tidak mempergunakan waktu yang singkat itu untuk berbagi pengalaman, keceriaan dan cerita. Sayang mereka lebih tertarik “berdialog” dengan BB daripada bertukar pikiran satu sama lain. Di tempat umum saja mereka tidak lagi malu dan segan, apalagi saat di rumah, mungkin lebih sibuk lagi dengan BB itu atau yang lain. 

Sedangkan keluarga yang duduk persis di samping saya, sungguh menikmati kebersamaan itu. Tidak ada BB walau saya yakin mereka punya. Tidak ada BBM walau sebenarnya barangkali penting untuk menghubungi teman sekantor dan sekerja. Yang saya lihat mereka sungguh menggunakan waktu itu dengan bermutu. Anaknya langsung membuka buka dan bertanya kepada orang tuanya sesuatu yang ia tidak mengerti. Orang tua itu sungguh melayani anaknya dengan baik.

Para sahabatku terkasih, terkasih dan teman-teman sekalian, saya yakin hadirnya tekhnolgi canggih sekarang ini berdampak positif dan negatif. Kita bisa berkomunikasi dengan semua teman, keluarga di mana saja dan kapan saja. Kita juga bisa menyerap banyak informasi penting berkaitan dengan hidup kita. Namun di sisi lain, kita bisa bisa terasing dari orang lain dan bahkan dengan keluarga kita sendiri. Alat tekhnologi itu bisa menguasai diri kita dan bukan sebaliknya kita yang mengontrol mereka.

Sering muncul keluhan bahwa BB, HP, FB dst telah mengarahkan kita lebih individualistik dan egois. Tidak mustahil kita lebih tertarik berkomunikasi dengan dunia maya daripada dunia nyata. Bahkan yang lebih parah kita lebih terbuka di media fb daripada kepada mereka yang kita sayangi. Akhirnya, manusia tidak peduli lagi dengan orang lain. Mereka tidak perhatian lagi dengan keluarga. Yang ada dalam pikiran ialah bagaimana ber-happy ria dengan alat itu. Berselancar tak mengenal waktu. Karena itu di mana saja (di Gereja, kantor, mobil, dan di tempat lain) asyik dan sibuk dengan itu. Tidak mustahil, bahwa pikiran kita sudah dirasuki dengan BB, Fb, HP itu. 

Kalau kita menyangi keluarga sebagaimana kita “menyangi” BB itu, saya yakin keluarga kita akan hidup damai. Kalau kita menyediakan waktu seperti kita menyediakan waktu untuk fb, saya yakin kebersaaan dengan mereka yang kita cintai pasti lebih bermutu. Kalau kita sering berkomunikasi dari hati ke hati, sebagaimana kita sering berkomunikasi lewat hp, saya yakin hidup kita penuh dengan nuansa positif. Kalau kita perhatian, sebagaimana kita perhatian dengan alat tekhnologi itu, saya yakin perhatian kita kepada orang lain juga akan full. 

Pernah dosen saya mengatakan kepada kami, “Silahkan kamu menelepon dan menjumpai saya kapan saja antara waktu 08:00- 18:00 (waktu kampus). Saya siap untukmu. Tetapi jangan telepon saya di atas jam itu karena itu adalah waktu untuk keluarga ku. Sederhana namun bermakna tegas bahwa keluarga juga membutuhkan beliau.

Maka mari kita memakin prinsip bijak. Buatlah keluarga menjadi prioritas utama dan pertama. Dahulukan dulu urusan paling penting baru urusan lain. Waktu untuk keluarga sudah sangat sedikit, maka pergunakanlah itu dengan baik dan bijak. Jangan waktu yang sedikit itu, “disita” lagi oleh kesibukan yang tidak penting, seperti keluarga dalam kisah di atas. Semoga.

( IVO )

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MINGGU PANGGILAN

Mei 8, 2012 at 11:12 am (Uncategorized)

Ch. Enung Martina

Kemeriahan Minggu Panggilan dirasakan umat Paroki Santa Monica sejak hari Sabtu, 28 Mei 2012 sampai dengan Minggu, 29 Mei pada Misa ke-2. Umat mengunjungi stand-stand pameran dari beberapa komunitas biarawan/biarawati yang mengikuti pameran pada saat itu. Suasana meriah itu dilengkapi dengan beberapa penampilan kawula muda dengan gaya panggung mereka yang tak kalah dengan para artis.

Semoga kemeriahan panggilan tidak hanya terhenti pada aksi panggung atau ramainya pengunjung ke stand-stand pameran, tetapi menjadi sarana untuk menyemai bibit panggilan di kawasan Tangerang dan sekitarnya.

Image

Image

ImageImage

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Paskahan Lingkungan Santo Silverius

April 24, 2012 at 10:57 am (Uncategorized) ()

Jelupang di senja hari. Rumah pertemuan Blok A1 Griya Asri. Anak-anak ramai berseliweran. Orang dewasa duduk bergerombol mengobrol di luar rumah. Rumah masih dipakai anak bina iman remaja membicarakan kegiatan mereka. Akhirnya selesailah BIR dan keluar rumah.Serentak anak-anak berlarian menuju rumah. Hari itu, Sabtu, 21 April 2012 bertepatan dengan hari Kartini, umat lingkungan St. Silverius, wilayah 9, paroki St. Monika, Serpong, mengadakan acara paskah bersama.

Seperti biasa acara dibuka dengan doa dan dilanjutkan pembacaan Kitab Suci serta nyanyian. Bapak Eko, selaku pembawa ibadat menyampaikan tentang makna Paskah dalam kehidupan menggereja dfi lingkungan. Kebangkitan Kristus menjadi semangat untuk hidup menggereja. Umat antusias mengikuti acara tersebut. Acara yang sederhana itu ditutup dengan acara makan bakso bersama. Uap dari kuah bakso yang mengepul dan dentigan bunyi sendok yang beradu dengan mangkok menjadi musik yang menyemarakkan acara pada senja itu.

Semoga gurihnya bakso menjadi sebuah lambang untuk semakin gurih juga umat lingkungan St. Silverius dalam menggereja di tengah-tengah masyarakat.

Ch. Enung Martina

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERPISAHAN ROMO SANTO DENGAN PPG ST. AMBROSIUS

April 16, 2012 at 2:06 pm (Uncategorized) (, , )

DIGITAL CAMERA

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KOTA DAUD, YANG BERNAMA BETLEHEM

Februari 7, 2012 at 2:21 pm (Uncategorized) (, , , , , , , )

            Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3).
            Betlehem terletak sekitar 10 km di sebelah selatan Yerusalem, dengan ketinggian sekitar 765m (2.510 kaki) di atas permukaan laut. Yang paling penting, Betlehem adalah tempat kelahiran Daud, raja kedua Israel. Kota ini pun merupakan tempat ia diurapi menjadi raja oleh Samuel (1 Samuel 16:4-13). Yang tak kalah pentingnya, Kota ini adalah tempat kelahiran dari Dia “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:2). Di sinilah tempat kelahiran Mesias yang dinantikan.
Saat ini, setelah ada ketegangan antara Israel dan Palestina, Betlehem termasuk wilayah Palestina. Ketika saya dan rombongan menuju tempat ini, kami harus melalui palang-palang perbatasan dengan penjagaan yang sangat ketat. Philip,local guide kami tidak bisa ikut bersama rombongan karena ia seorang Yahudi. Yahudi dilarang masuk ke Palestina, kecuali ada kepentingan yang mendesak tentunya. Untungnya sopir bis kami Cholid, yang kami juluki Mr. No. One, (Julukan karena kepiawaiannya membawa bis), bukan orang Yahudi. Ia seorang bersuku Arab, dan seorang Muslim, tetapi kami tak pernah melihat ia solat selama bersama dengan kami. Selain itu Cholid juga penduduk Palestina, jadi ia bisa bebas memasuki wilayahnya. O,ya banyak warga Palestina yang mencari mata pencaharian di wilayah Israel, entah sebagai sopir, karyawan, atau pemandu wisata.
Beberapa rombongan terpaksa harus ganti bis karena sopir mereka Yahudi. Mereka berganti bis Palestina dengan sopir juga warga Palestina. Ada perbedaan antara bis kedua negara tersebut, yaitu bis Israel lebih bagus dibandingkan Palestina. Selain itu, keadaan dan fasilitas kedua negara tersebut jelas jauh berbeda. Israel kesannya lebih bagus, teratur, dan lengkap.
Karena itu,  kami bisa terus dengan bisa kami bersama sopir kami yang jagoan itu, Cholid alias Mr.No. One. Sesampainya di tempat parkir bis, local guide dari Betlehem pun datang. Ia seorang Arab, bahasa Inggrisnya sangat cepat. Terkadang saat menjelaskan, kami sampai terseok-seok dibuatnya. Untungnya saya pernah membaca tentang sejarah kekristenan sehingga kata-kata yang hilang karena cepatnya berbicara bisa tersambung lagi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Topik yang ia jelaskan seputar sejarah bagaimana gereja didirikan dan berkaitan dengan materi Perang Salib dan zaman Bizantium.
Ini beberapa yang saya tangkap dari local guide di Betlehem. Tahun 325 M, Ratu Helena, ibunda  Constantine,  kaisar  Roma     yang beragama Kristen berkunjung ke Tanah Suci. Di sana beliau mendirikan gereja Kristen pertama.
Tahun 529 M orang Samaria dari Nublus memberontak melawan pemerintahan Kristen. Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem rusak parah karena kejadian itu. Namun semuanya itu segera dibangun kembali berdasarkan perintah Kaisar Yustinianus.
Pada tahun 614 M terjadi invasi Persia ke Palestina.  Mereka menghancurkan gereja-geraja dan biara. Namun,  Gereja tempat kelahiran Yesus selamat dari penghancuran. Kisah yang diceritakan dalam sumber-sumber yang belakangan mengatakan bahwa mereka membatalkan rencana menghancurkan Gereja Kelahiran ketika mereka melihat gambar orang majus yang dilukiskan mengenakan pakaian Persia dalam salah satu mosaik di Gereja itu.
Pada masa Ksatria Perang Salib ( 1099 M) Gereja Kelahiran  diperbaiki dan diperbaharui. Pada masa ini Betlehemmakmur di bawah pemerintahan mereka.
Pada 1187, Saladin merebut Betlehem dari tangan Tentara Salib, dan para rohaniwan Latin dipaksa pergi. Saladin menyetujui kembalinya dua imam dan dua diaken Latin pada 1192. Namun kota itu menderita karena hilangnya bisnis dari para peziarah. Betlehem untuk sementara waktu kembali ke tangan Tentara Salib melalui perjanjian antara 1229 dan 1244. Pada 1250, dengan berkuasanya Rukn al-Din Baibars, toleransi terhadap kekristenan menurun, para pendeta meninggalkan kota, dan pada 1263 tembok-tembok kota dihancurkan. Para agamawan Latin kembali ke kota itu selama abad berikutnya, membentuk biara yang berdampingan dengan Basilika, dan pada 1347 Ordo Fransiskan mendapatkan hak milik atas Gua Kelahiran serta hak untuk menyelenggarakan dan memelihara Basilika itu. ( http://id.wikipedia.org/ )
Pada 21 Desember 1995, Betlehem menjadi salah satu wilayah di bawah kekuasaan penuh oleh Otoritas Palestina. Ia menjadi ibukota distrik Betlehem.
            Ada beberapa kutipan ayat yang berkaitan dengan Betlehem dalam kitab Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mari kita simak kitipan di bawah ini.
Demikian Rachel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem (Kej. 35:19). Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem -Yehuda beserta istrinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama istrinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem –Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana (Rut 1:1-2). Dan berjalanlah keduanya (RUT dan Naomi) sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu…(Rut 1:19) Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab.dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai (Rut 1:22). Lalu datanglah Boas dari Betlehem…(Rut 2:4). … Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyur di Betlehem (Rut 4:11). “…Aku (Allah) mengutus engkau (Samuel) kepada Isai, orangBetlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” (I Sam.16:2)  
Demikian Yusuf pergi dari kota Nazareth di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem…(Luk .2: 4).
Kota ini disebut kota Daud ternyata didasarkan pada kisah Perjanjian Lama, Kitab Kejadian dan Rut tentang asal-usul Daud. Daud adalah anak Isai, Isai adalah anak Obed, Obed adalah anak Boas dengan Rut. Kisah keluarga itu berlatar tempat di Betlehem.  Dari Raja Daud sampai Yesus  menurut Matius ( Mat.1: 17 )  ada 28 keturunan. Dengan demikian, bisa dipahami alasan mengapa Betlehem disebut Kota Daud dan jelas juga mengapa Yusuf harus membawa istrinya, Maria yang sedang hamil tua, pergi mendaftarkan diri ke Betlehem. Dengan begitu kita  juga mengetahui bahwa Yesus sering disebut sebagai Putra Daud seperti yang diucapkan oleh Bartimeus anak Timeus seorang pengemis buta di kota Yeriko dalam Injil Markus 10: 47-49.
Di Betlehem ada tiga komplek gedung gereja. Kami mengadakan misa pagi di salah satu gereja yang menurut Romo Roby dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para tentara pada zaman Perang Salib. Pada zaman Persia menginvasi Tanah Suci, gereja tempat kami misa ini sudah diduduki kaum Muslim. Mereka akan merusak dan mengubah gereja itu sesuai kebutuhan mereka. Namun, niatnya itu diurungkan karena gedung tersebut sangat istimewa, yaitu tidak memerlukan alat penngeras suara bila sedang ada pertemuan.
Pada Misa pagi itu, Romo Roby berbicara tentang silsilah Yesus yang diambil dari bacaan Injil Matius 1: 1-17. Beliau berbicara tentang peran kaum perempuan untuk datangnya jalan keselamatan.  Salah satu perempuan yang memegang peranan untuk perjalanan gereja dan juga keselamatn itu adalah Maria, ibunda Yesus. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam silsilah itu ada juga beberapa perempuan yang agak miring ceritanya, salah satunya Betsyeba, istri Uria yang akhirnya menjadi istri Raja Daud, yang melahirkan Salomo. Beberapa cerita intrik yang terjadi dalam silsilah Yesus itu hanya mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus itu nyata-nyata sebagai manusia biasa. Namun, kemiringan atau kesalahan itu bukan sesuatu yang memalukan atau harus ditutupi. Itu semua manusiawi sekali.
Tanpa perjalanan yang panjang dengan segala lekuk dan likunya, sabda tak akan pernah menjadi daging. Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3). Tanpa kemiringan yang manusiawi itu kata-kata dalam Injil di atas tidak berbunyi demikian mungkin.
JELUPANG, NATAL 2011

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.