MENYOAL PANGAN

Februari 26, 2013 at 9:02 am (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , )

Ch. Enung Martina

Dimuat dalam Majalah Komunika edisi November-Desember 2012

BENQ DIGITAL CAMERA

Bagi umat Paroki Santa Monika yang termasuk surplus, pangan bukan persoalan yang mengkuatirkan. Kalau pun mungkin ada permasalahan, biasanya  berkaitan dengan ketidakseimbangan gizi karena pola makan yang salah dan berlebih yang akibatnya berkaitan dengan obesitas  atau timbulnya beberapa penyakit yang menyertainya. Kali  ini saya akan berbicara tentang pangan yang setiap harinya kita konsumsi. Hal ini menyangkut tentang Hari Pangan Sedunia yang bulan Oktober lalu diperingati di seluruh dunia, juga di paroki kita.

Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan bagian terintegrasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (Food and Agriculture Organization, FAO) yang didirikan tahun 1945. Karena itu FAO adalah forum netral yang beranggotakan baik negara berkembang maupun negara sedang berkembang. Karena itu,  semua anggota adalah setara ketika duduk bersama merundingkan persetujuan dan memperdebatkan kebijakan tentang pangan dan pertanian.

Tema hari pangan sedunia, tanggal 16 Oktober 2012 adalah “Agricultural Cooperatives – Key to Feeding The World”. Tema ini dipilih untuk menunjukkan peran “kerjasama” dalam memperbaiki ketahanan pangan dan kontribusinya dalam usaha menghapuskan kelaparan dari muka bumi. Informasi ini  saya ambil dari http://www.setkab.go.id.

Saya tergelitik dengan kata menghapuskan kelaparan dari muka bumi. Mengapa? Masalah pangan dari waktu ke waktu terus membayangi bumi ini. Ada banyak penyebab yang ketika dirunut ujung-ujungnya berakhir pada keserakahan manusia yang memanfaatkan alam tidak dengan bijaksana. Saya dan Anda termasuk bagian dari manusia itu.

Yang akan kita lihat di sini adalah berkaitan dengan kita memperlakukan pangan dan mengonsumsi pangan keseharian kita. Tanpa kita sadari,  kita mengonsumsi pangan tidak dengan bijaksana. Seperti yang saya alami, sering kali tidak menyadari bahwa pangan yang saya makan mempunyai  andil yang besar untuk menunjang hidup fisik saya di dunia. Ketika kita makan, hanya sekedar makan. Seharusnya saya menyadari bahwa makanan itu berkat dari Tuhan yang perjalanannya sampai di piring saya begitu panjang. Prosesnya melibatkan keringat bahkan air mata dari beberapa orang.

Mari kita melihat perjalanan makanan yang ada pada suapan kita. Saya mengambil contoh sepiring nasi ( makanan pokok kita) yang siap santap. Dimulai dari bulir-bulir gabah yang ditebarkan petani di lahan persemaian. Sesudah itu menunggu beberapa minggu (lebih kurang 3 minggu) benih dicabut. Kemudian benih padi ditanam di sawah yang sebelumnya sudah dicangkuli agar tanahnya gembur. Proses berikutnya menunggu beberapa minggu untuk dipupuk. Setelah itu ditunggu beberapa minggu untuk disiangi rumput yang tumbuh di sela-selanya. Lanjut cerita padi dinantikan hingga berbunga, berbulir, dan menguning bernas. Pada masa pertumbuhannya petani tak henti memperhatikan air yang menggenaninya agar tumbuh dengan sempurna.  Bila petani menanam padi bibit unggul, 4 bulan kemudian baru bisa dipanen. Tidak selesai di situ, padi akan dirontokkan untuk diambil gabahnya. Selanjutnya gabah ditampi untuk memisahkan yang tak berisi dengan yang bernas. Gabah kemudian dijemur hingga kering. Berikutnya gabah dibawa ke penggilingan untuk digiling jadi beras. Baru sesudah jadi beras didistribusikan  ke kota/warung. Beras kita beli dan kita tanak menjadi nasi. Akhirnya nasi siap di piring saya dan Anda untuk disantap. Begitu jauhnya perjalanan sebutir nasi.

Namun,  terkadang kita abai terhadap pangan  dengan membuang – buang makanan. Saya memperhatikan pada saat orang makan di sebuah pesta. Orang merasa bahwa kalau tidak suka sejenis makanan boleh membuangnya. Orang mengambil makanan tanpa peduli apakah nanti dihabiskan atau tidak. Begitu merasa tidak suka makanan itu, lantas orang membuangnya.

Menghargai pangan belum menjadi bagian dari budaya kita, terutama di kalangan menengah ke atas . Banyak orang tua yang belum memberikan pendidikan tentang menghargai pangan dalam keluarga, dalam hal ini termasuk juga belum adanya pendidikan tentang makanan sehat.  Selama ini, bila saya perhatikan bekal anak-anak di sekolah, banyak yang membawa  makanan yang praktis: mi goreng, nasi dengan nuget, nasi dengan telur atau ayam saja, nasi goreng ditambah bakso, roti, donat (yang dibeli tadi malam) , biskuit, atau apa pun makanan yang mudah disajikan, tetapi tak memperhatikan nilai gizi.

Namun,  akhir-akhir ini, di beberapa sekolah,  saya melihat mulai banyak yang peduli tentang pendidikan nilai menghargai pangan. Saya ambil contoh di Santa Ursula BSD. Di TK, SD, dan SMP  ada program membawa sayuran dan buah setiap hari tertentu. Program ini bertujuan mengajarkan makan makanan sehat pada anak-anak.  Selain itu  di SMP, OSIS mempunyai program membawa makanan dengan bahan nonberas dan nonterigu. Tujuan program ini untuk memperkenalkan keanekaragaman pangan,  Saya melihat anak-anak membawa aneka makanan yang terbuat dari umbi-umbian. Ternyata mereka makan ubi tersebut  dengan lahapnya. Beberapa anak yang biasanya tak mengenal makanan rakyat jelata seperti singkong,  karena program serkolah, akhirnya bisa merasakan  makan panganan rakyat tersebut.

Di atas adalah contoh bahwa sudah ada upaya untuk mengarah pada menghargai pangan. Selain itu banyak juga sekolah yang melakukan program dalam rangka memperingati Hari Pangan dengan  mengadakan kolekte atau mungkin aksi yang lain untuk menggalang sumbangan yang akan disalurkan  pada lembaga atau orang yang membutuhkan. Syukur pada Tuhan, sudah ada upaya untuk menggarah pada gerakan peduli orang yang kekurangan pangan.

Namun, menghargai pangan hendaknya tidak berhenti pada saat peringatan Hari Pangan saja, setiap saat tetap konsisten untuk melakukannya. Kita belajar untuk mengkonsumsi makanan sehat, makan dengan tidak berlebih, tidak menyia-nyiakan makanan, dan juga peduli pada orang di sekitar yang kekurangan pangan. Sebagai orang tua,  juga kita belajar untuk menyampaikan nilai ini secara terus-menerus kepada anak-anak kita.

Ada banyak kisah dalam Al Kitab yang berbicara tentang pangan. Yang paling terkenal adalah kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, kisah lima roti dua ikan, dan yang setiap saat kita peringati dan rasakan adalah EKARISTI. Dalam peristiwa konsekrasi, roti yang menjadi Tubuh Kristus dan anggur yang menjadi Darah-Nya, merupakan bukti nyata bahwa Tuhan kita peduli akan soal pangan. Tak hanya makanan jasmani, namun jauh daripada itu yaitu makanan rohani kita. Yesus bersabda  bahwa daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Sungguh menjadi bukti kepedulian Tuhan akan kita.

Dengan mengacu akan hal itu,  saya akan menjalankan niat saya untuk memperhatikan asupan makanan bagi diri saya sendiri terutama, juga untuk keluarga saya. Saya akan belajar makan makanan sehat.

Berbicara tentang makanan sehat, saya pernah mengikuti sebuah seminar yang menyarankan kita pantang terhadap beberapa makanan berkarbohidrat tinggi/jenuh, seperti nasi, ubi-ubian, dan aneka tepung. Narasumbner menyarankan untuk  makan makanan yang segar yaitu tanpa mengalami begitu banyak proses, seperti dimasak, fermentasi, dan diawetkan. Makanan sehat yang sangat disarankan adalah makan salad aneka sayuran dan buah segar.

Saya sependapat, tetapi sepertinya saya belum bisa melepaskan aneka makanan berkarbohidrat. Saya ini orang kampung yang lidahnya suka dengan umbi-umbian dengan aneka macam produknya. Memang berat juga kalau drastis beralih begitu saja.

Sebetulnya dalam seminar tersebut saya agak tersinggung dengan kata-kata narasumber yang mengatakan bahwa orang yang makan nasi itu seperti unggas dan yang makan ubi-ubian itu adalah kuda nil. Wow…, ternyata saya tergolong keduanya.

Agak bertentangan memang dengan pendapat narasumber lain yang pernah saya baca tentang umbi-umbian yang sangat banyak manfaatnya. Saya memberikan satu contoh umbi yaitu ubi jalar dengan berbagai khasiatnya. Kandungan kimia pada ubi jalar adalah protein, lemak, karbohidrat, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi, karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam nikotinat. Ubi jalar sangat kaya akan antioksidan yang bermanfaat utuk kekebalan tubuh, anti peradangan, meredakan asma, menyembuhkan bronchitis, mengatasi arthritis, membantu melancarkan  pencernaan, menyembuhkan berbagai jenis kanker, mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh, efektif dalam meregulasi kadar gula darah, betakaroten (terutama ubi merah)  sangat baik untuk mata. Nah, lihat  begitu banyak manfaatnya. Itu baru satu jenis ubi, Kita belum melihat khasiat ubi-ubi lain yang jenisnya begitu banyak tumbuh di tanah air kita tercinta ini.  O, ya perlu diingatkan ubi jalarnya tidak digoreng lho, lebih ciamik kalau dikukus.

Akhirnya dari saran di atas, saya memilih jalan tengah, tidak terlalu plek persis seperti apa yang dianjurkan narasumber tersebut, yaitu beralih menjadi pemakan aneka makanan mentah. Sebenarnya saya juga pemakan sayuran mentah karena saya orang Sunda. Saya  tetap melanjutkan makan makanan pokok yaitu nasi dan juga ubi-ubian tadi. Tidak mengapa saya  digolongkan unggas dan kuda nil oleh seorang narasumber seminar tadi. Saya tetap percaya semua makanan yang dijadikan Allah itu baik adanya, hanya kita hendaknya bijaksana untuk mengonsumsinya. Dengan begitu,  saya tahu bahwa dengan menghargai pangan, juga berarti menghargai alam dan Sang Pencipta. Yang tentunya diharapkan juga kita menaruh empati bagi orang lain yang kekurangan pangan dengan memberi bantuan. Itulah bagian dari ekspresi iman dengan  memberi bantuan  semampu kita.

Jelupang, akhir Oktober 2012

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.