MINGGU PANGGILAN

Mei 8, 2012 at 11:12 am (Uncategorized)

Ch. Enung Martina

Kemeriahan Minggu Panggilan dirasakan umat Paroki Santa Monica sejak hari Sabtu, 28 Mei 2012 sampai dengan Minggu, 29 Mei pada Misa ke-2. Umat mengunjungi stand-stand pameran dari beberapa komunitas biarawan/biarawati yang mengikuti pameran pada saat itu. Suasana meriah itu dilengkapi dengan beberapa penampilan kawula muda dengan gaya panggung mereka yang tak kalah dengan para artis.

Semoga kemeriahan panggilan tidak hanya terhenti pada aksi panggung atau ramainya pengunjung ke stand-stand pameran, tetapi menjadi sarana untuk menyemai bibit panggilan di kawasan Tangerang dan sekitarnya.

Image

Image

ImageImage

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Paskahan Lingkungan Santo Silverius

April 24, 2012 at 10:57 am (Uncategorized) ()

Jelupang di senja hari. Rumah pertemuan Blok A1 Griya Asri. Anak-anak ramai berseliweran. Orang dewasa duduk bergerombol mengobrol di luar rumah. Rumah masih dipakai anak bina iman remaja membicarakan kegiatan mereka. Akhirnya selesailah BIR dan keluar rumah.Serentak anak-anak berlarian menuju rumah. Hari itu, Sabtu, 21 April 2012 bertepatan dengan hari Kartini, umat lingkungan St. Silverius, wilayah 9, paroki St. Monika, Serpong, mengadakan acara paskah bersama.

Seperti biasa acara dibuka dengan doa dan dilanjutkan pembacaan Kitab Suci serta nyanyian. Bapak Eko, selaku pembawa ibadat menyampaikan tentang makna Paskah dalam kehidupan menggereja dfi lingkungan. Kebangkitan Kristus menjadi semangat untuk hidup menggereja. Umat antusias mengikuti acara tersebut. Acara yang sederhana itu ditutup dengan acara makan bakso bersama. Uap dari kuah bakso yang mengepul dan dentigan bunyi sendok yang beradu dengan mangkok menjadi musik yang menyemarakkan acara pada senja itu.

Semoga gurihnya bakso menjadi sebuah lambang untuk semakin gurih juga umat lingkungan St. Silverius dalam menggereja di tengah-tengah masyarakat.

Ch. Enung Martina

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PERPISAHAN ROMO SANTO DENGAN PPG ST. AMBROSIUS

April 16, 2012 at 2:06 pm (Uncategorized) (, , )

DIGITAL CAMERA

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KOTA DAUD, YANG BERNAMA BETLEHEM

Februari 7, 2012 at 2:21 pm (Uncategorized) (, , , , , , , )

            Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3).
            Betlehem terletak sekitar 10 km di sebelah selatan Yerusalem, dengan ketinggian sekitar 765m (2.510 kaki) di atas permukaan laut. Yang paling penting, Betlehem adalah tempat kelahiran Daud, raja kedua Israel. Kota ini pun merupakan tempat ia diurapi menjadi raja oleh Samuel (1 Samuel 16:4-13). Yang tak kalah pentingnya, Kota ini adalah tempat kelahiran dari Dia “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:2). Di sinilah tempat kelahiran Mesias yang dinantikan.
Saat ini, setelah ada ketegangan antara Israel dan Palestina, Betlehem termasuk wilayah Palestina. Ketika saya dan rombongan menuju tempat ini, kami harus melalui palang-palang perbatasan dengan penjagaan yang sangat ketat. Philip,local guide kami tidak bisa ikut bersama rombongan karena ia seorang Yahudi. Yahudi dilarang masuk ke Palestina, kecuali ada kepentingan yang mendesak tentunya. Untungnya sopir bis kami Cholid, yang kami juluki Mr. No. One, (Julukan karena kepiawaiannya membawa bis), bukan orang Yahudi. Ia seorang bersuku Arab, dan seorang Muslim, tetapi kami tak pernah melihat ia solat selama bersama dengan kami. Selain itu Cholid juga penduduk Palestina, jadi ia bisa bebas memasuki wilayahnya. O,ya banyak warga Palestina yang mencari mata pencaharian di wilayah Israel, entah sebagai sopir, karyawan, atau pemandu wisata.
Beberapa rombongan terpaksa harus ganti bis karena sopir mereka Yahudi. Mereka berganti bis Palestina dengan sopir juga warga Palestina. Ada perbedaan antara bis kedua negara tersebut, yaitu bis Israel lebih bagus dibandingkan Palestina. Selain itu, keadaan dan fasilitas kedua negara tersebut jelas jauh berbeda. Israel kesannya lebih bagus, teratur, dan lengkap.
Karena itu,  kami bisa terus dengan bisa kami bersama sopir kami yang jagoan itu, Cholid alias Mr.No. One. Sesampainya di tempat parkir bis, local guide dari Betlehem pun datang. Ia seorang Arab, bahasa Inggrisnya sangat cepat. Terkadang saat menjelaskan, kami sampai terseok-seok dibuatnya. Untungnya saya pernah membaca tentang sejarah kekristenan sehingga kata-kata yang hilang karena cepatnya berbicara bisa tersambung lagi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Topik yang ia jelaskan seputar sejarah bagaimana gereja didirikan dan berkaitan dengan materi Perang Salib dan zaman Bizantium.
Ini beberapa yang saya tangkap dari local guide di Betlehem. Tahun 325 M, Ratu Helena, ibunda  Constantine,  kaisar  Roma     yang beragama Kristen berkunjung ke Tanah Suci. Di sana beliau mendirikan gereja Kristen pertama.
Tahun 529 M orang Samaria dari Nublus memberontak melawan pemerintahan Kristen. Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem rusak parah karena kejadian itu. Namun semuanya itu segera dibangun kembali berdasarkan perintah Kaisar Yustinianus.
Pada tahun 614 M terjadi invasi Persia ke Palestina.  Mereka menghancurkan gereja-geraja dan biara. Namun,  Gereja tempat kelahiran Yesus selamat dari penghancuran. Kisah yang diceritakan dalam sumber-sumber yang belakangan mengatakan bahwa mereka membatalkan rencana menghancurkan Gereja Kelahiran ketika mereka melihat gambar orang majus yang dilukiskan mengenakan pakaian Persia dalam salah satu mosaik di Gereja itu.
Pada masa Ksatria Perang Salib ( 1099 M) Gereja Kelahiran  diperbaiki dan diperbaharui. Pada masa ini Betlehemmakmur di bawah pemerintahan mereka.
Pada 1187, Saladin merebut Betlehem dari tangan Tentara Salib, dan para rohaniwan Latin dipaksa pergi. Saladin menyetujui kembalinya dua imam dan dua diaken Latin pada 1192. Namun kota itu menderita karena hilangnya bisnis dari para peziarah. Betlehem untuk sementara waktu kembali ke tangan Tentara Salib melalui perjanjian antara 1229 dan 1244. Pada 1250, dengan berkuasanya Rukn al-Din Baibars, toleransi terhadap kekristenan menurun, para pendeta meninggalkan kota, dan pada 1263 tembok-tembok kota dihancurkan. Para agamawan Latin kembali ke kota itu selama abad berikutnya, membentuk biara yang berdampingan dengan Basilika, dan pada 1347 Ordo Fransiskan mendapatkan hak milik atas Gua Kelahiran serta hak untuk menyelenggarakan dan memelihara Basilika itu. ( http://id.wikipedia.org/ )
Pada 21 Desember 1995, Betlehem menjadi salah satu wilayah di bawah kekuasaan penuh oleh Otoritas Palestina. Ia menjadi ibukota distrik Betlehem.
            Ada beberapa kutipan ayat yang berkaitan dengan Betlehem dalam kitab Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mari kita simak kitipan di bawah ini.
Demikian Rachel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem (Kej. 35:19). Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem -Yehuda beserta istrinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama istrinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem –Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana (Rut 1:1-2). Dan berjalanlah keduanya (RUT dan Naomi) sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu…(Rut 1:19) Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab.dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai (Rut 1:22). Lalu datanglah Boas dari Betlehem…(Rut 2:4). … Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyur di Betlehem (Rut 4:11). “…Aku (Allah) mengutus engkau (Samuel) kepada Isai, orangBetlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” (I Sam.16:2)  
Demikian Yusuf pergi dari kota Nazareth di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem…(Luk .2: 4).
Kota ini disebut kota Daud ternyata didasarkan pada kisah Perjanjian Lama, Kitab Kejadian dan Rut tentang asal-usul Daud. Daud adalah anak Isai, Isai adalah anak Obed, Obed adalah anak Boas dengan Rut. Kisah keluarga itu berlatar tempat di Betlehem.  Dari Raja Daud sampai Yesus  menurut Matius ( Mat.1: 17 )  ada 28 keturunan. Dengan demikian, bisa dipahami alasan mengapa Betlehem disebut Kota Daud dan jelas juga mengapa Yusuf harus membawa istrinya, Maria yang sedang hamil tua, pergi mendaftarkan diri ke Betlehem. Dengan begitu kita  juga mengetahui bahwa Yesus sering disebut sebagai Putra Daud seperti yang diucapkan oleh Bartimeus anak Timeus seorang pengemis buta di kota Yeriko dalam Injil Markus 10: 47-49.
Di Betlehem ada tiga komplek gedung gereja. Kami mengadakan misa pagi di salah satu gereja yang menurut Romo Roby dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para tentara pada zaman Perang Salib. Pada zaman Persia menginvasi Tanah Suci, gereja tempat kami misa ini sudah diduduki kaum Muslim. Mereka akan merusak dan mengubah gereja itu sesuai kebutuhan mereka. Namun, niatnya itu diurungkan karena gedung tersebut sangat istimewa, yaitu tidak memerlukan alat penngeras suara bila sedang ada pertemuan.
Pada Misa pagi itu, Romo Roby berbicara tentang silsilah Yesus yang diambil dari bacaan Injil Matius 1: 1-17. Beliau berbicara tentang peran kaum perempuan untuk datangnya jalan keselamatan.  Salah satu perempuan yang memegang peranan untuk perjalanan gereja dan juga keselamatn itu adalah Maria, ibunda Yesus. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam silsilah itu ada juga beberapa perempuan yang agak miring ceritanya, salah satunya Betsyeba, istri Uria yang akhirnya menjadi istri Raja Daud, yang melahirkan Salomo. Beberapa cerita intrik yang terjadi dalam silsilah Yesus itu hanya mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus itu nyata-nyata sebagai manusia biasa. Namun, kemiringan atau kesalahan itu bukan sesuatu yang memalukan atau harus ditutupi. Itu semua manusiawi sekali.
Tanpa perjalanan yang panjang dengan segala lekuk dan likunya, sabda tak akan pernah menjadi daging. Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3). Tanpa kemiringan yang manusiawi itu kata-kata dalam Injil di atas tidak berbunyi demikian mungkin.
JELUPANG, NATAL 2011

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Menikmati Perbedaan

Oktober 27, 2011 at 4:35 pm (Uncategorized)

Nikmatilah Perbedaan!

Perbedaan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa! Lihatlah sekeliling kita, indahnya warna-warni bunga, warna-warni satwa, dan segala keragaman lain yang menghiasi dunia. Bayangkan kalau kita hanya mengenal warna hitam saja! Alangkah gelapnya dunia ini! Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni, kita tidak akan merasakan hidup semeriah dan seindah sekarang ini, betul?! Begitu pun dengan kehidupan, setiap insan selalu berhadapan dengan segala macam perbedaan dan warna-warni kehidupan. Tapi sayang, tidak semua orang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan.

Banyak orang merasa tersiksa karena perbedaan alias mereka tidak mampu menikmatinya. Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya karena perbedaan. Entah itu perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa, prinsip, atau sekadar pendapat. Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Setiap orang lahir dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan fisik, pola pikir, kesenangan, dan lain-lain. Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak selalu menguntungkan. Coba bayangkan, seandainya semua orang memiliki kemampuan memimpin, lantas siapa yang mau dipimpin? Kalau semua orang menjadi orang tua, siapa yang mau jadi anak? Siapa juga yang akan menerima sedekah, jika semua orang ditakdirkan kaya? Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan.

Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus bersyarat.

Nah, syarat apa saja yang harus dipenuhi? Berikut di antaranya…

1. Cara pandang kita terhadap perbedaan. Berpikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin. Musyawarah untuk mencapai kesepakatan adalah jalan yang tepat untuk mengelola perbedaan. Berlatihlah utk menghargai, menerima, menjalankan dan bertanggungjawab terhadap keputusan bersama, meski berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu pada tempatnya. Saat bekerja sama dengan orang lain, salurkan potensi, karakter, minat yang berbeda-beda pada posisi ‘yang tepat’. Cara ini akan mendorong tercapainya tujuan bersama dan mendukung pengembangan potensi masing-masing individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain. Apapun dan bagaimana pun kondisi atau pendapat orang lain, perlakukan mereka selayaknya diri kita ingin diperlakukan. Anggaplah semua orang penting. Mereka memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi tdk bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong. Merasa diri paling penting dan lebih baik daripada orang lain *tidak akan* menambah nilai lebih bagi kita. Toh kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadilah beton dalam bangunan. Meski tidak nampak, namun sesungguhnya ialah yang menjadi penyangga kokohnya sebuah bangunan.

6. Cari sumber informasi yang terjamin kebenarannya. Perbedaan bisa muncul karena informasi yang salah. Oleh sebab itu, pastikan sumber informasi kita bisa terjamin dan dapat dipercaya kebenarannya. Lebih bagus lagi jika disertai bukti yang mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Menyalahkan orang lain terus menerus tidak akan banyak membantu kita. Bisa jadi kesalahan sebenarnya terletak pada diri kita. Karenanya, koreksi diri sendiri terlebih dahulu merupakan langkah yang paling bijaksana. So, berhentilah menyesalkan perbedaan. Karena jika tidak, anda akan kehilangan sumber kebahagiaan!

Mr Day

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan!

Oktober 4, 2011 at 5:31 pm (Uncategorized)

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan!

Ditulis Oleh:  Harry untuk sahabatku Harry
Sahabatku yang baik, banyak orang yang tidak menyukai kesendirian, karena waktu yang dilewati terasa lebih panjang dan melelahkan.

‘Sendiri oh sendiri’… Ternyata hal remeh ini bisa menjadi masalah besar bagi sebagian orang!

Apakah Sahabatku termasuk yang demikian? :-)

Memang, kesendirian seringkali diidentikkan dengan hal yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol kesedihan. Namun, jika kita mau membuka pikiran, sebenarnya kesendirian itu tidak selalu mematikan!

Kesendirian bisa memiliki dua makna…

Pertama, kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya, tanpa ada orang di sekitarnya. Kedua, hanya berbentuk perasaan saja.

Bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun merasakan kesunyian. Mungkin Sahabatku pernah mengalami hal serupa, terutama ketika menemui masalah dengan rekan kerja, sahabat, keluarga, atau pacar? :-) dan lain sebagainya..!

Satu hal yang perlu Sahabat ingat, kesendirian dengan arti apapun sebenarnya bukan masalah jika kita mampu mengelolanya dengan baik, atas perasaan, sikap dan segala situasinya.

Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih bermakna? Lakukan hal berikut :

1. Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif  yang sangat Sahabat sukai, misalnya dengan membaca, menulis, olahraga, menyanyi? :-) Apapun kesukaan Sahabatku. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih menyenangkan!

2. Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi impian Sahabatku dan belum sempat dilakukan. Sahabatku bisa membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman dulu, buku-buku, dan lain sebagainya.

Percaya, cara ini akan menyadarkan Sahabatku akan sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya. Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi menyenangkan? ;-)

3. Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang keinginan yang ingin Sahabat wujudkan selagi masih hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali ‘keinginan gila’ saat Sahabatku masih kecil? Atau mimpi- mimpi lain yang belum terlaksanakan?

Saat itu Sahabatku akan sadar, ternyata banyak sekali hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!

4. Dan yang terakhir…. Sebenarnya ini merupakan hal  *utama* dan yang pertama yang harus Sahabat lakukan…

Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri Sahabatku. Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat keberadaan Sahabat di dunia.

Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin kokoh kemampuan Sahabatku mengarungi kehidupan,  dengan segala situasinya.

Intinya, jangan biarkan Sahabatku terjebak dalam kesendirian dengan suasana ‘hati yang negatif’, membiarkannya berlarut-larut, hingga membuat Sahabat putus asa.

Kalau Sahabat mau membuka mata, kita sebenarnya tidak pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar kita.

Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa Sahabatku jadikan teman, dan ajak bicara!

Jika Sahabat mau terbuka, dalam kesendirian Sahabat bisa merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian Sahabat bisa menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian, dan memaksimalkan potensi yang Sahabat miliki.

Dalam kesendirian pula Sahabatku bisa mengungkap kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan ego yang seringkali Sahabat temukan di keramaian!

Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan saja kepada setiap orang, termasuk kepada Sahabat.
Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini Sahabatku sedang dilanda ‘kesepian’ alias merasa ‘sunyi sepi sendiri’, Sahabat harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya mematikan!

Kelola-lah perasaan Sahabat dengan baik, dan buatlah kesendirian menjadi lebih bermakna. :-)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BAKSOS, 21 August 2011

September 7, 2011 at 3:53 pm (Uncategorized)

Kebersamaan, berbagi kasih, ke-aneka ragaman, cinta kasih, saling menghormati, toleransi semua tercurahkan dalam BAKSOS Silverius 21 Agustus 2011, bagai air yang mengalirkan berkat yang melimpah kita nikmati bersama, bagai luka yang dibalut tuk penyembuhan rasa saling menilai perbeadan yang ada, dengan balutan dan sentuhan kasih sayang menghapus luka dan sekedar  jangan sampai terluka kembali ….

Kegiatan ini berada di wilayah Rw 06 Desa Jelupang Serpong Utara Tangsel, dimana kegitan tersebut adalah pembagian sembako kepada warga yang kurang mampu dengan jumlah 500 kupon yang dibagikan. Sungguh berkat yang melimpah untuk dapat berbagi dengan sesama dan berkat Tuhanlah kita semua dapat berbuat seperti ini, kiranya semua amal baik kita diterima oleh Tuhan kita.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada saudara seiman ( Lingk. Silverius, Park. St. Monika ) yang bersedia meluangkan waktu untuk berbagi melalui baksos dengan senyum penuh kasih, dengan semangat kebersamaaan , kekeluargaan, dan tentu ketulusan hati.

harryndah@yahoo.co.id

christyharry.wordpress.com

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BIOGRAFI ST SILVERIUS

Agustus 24, 2011 at 1:33 pm (Uncategorized)

ST. SILVERIUS, POPE AND MARTYR.

 FEAST DAY:  JUNE 20TH

FROM BUTLER’S  PICTORIAL LIVES OF THE SAINTS

SILVERIUS was son of Pope Hermisdas, who had been married before he entered the ministry. Upon the death of St. Agapetas, after a vacancy of forty-seven days, Silverius, then subdeacon, was chosen Pope, and ordained on the, 8th of June, 536. Theodora, the empress of Justinian, resolved to promote the sect of the Acephali. She endeavored to win Silverius over to her interest, and wrote to him, ordering that he should acknowledge Anthimus lawful bishop, or repair in person to Constantinople and re-examine his cause on the spot. Without the least hesitation or delay, Silverius returned her a short answer, by which he peremptorily gave her to understand that he neither could nor would obey her unjust demands and betray the cause of the Catholic faith. The empress, finding that she could expect nothing from him, resolved to have him deposed. Vigilius, archdeacon of the Roman Church, a man of address, was then at Constantinople. To him the empress made her application, and finding him taken by the bait of ambition, promised to make him Pope, and to bestow on him seven hundred pieces of gold, provided he would engage himself to condemn the Council of Chalcedon and receive to communion the three deposed Eutychian patriarchs, Anthimus of Constantinople, Severus of Antioch, and Theodosius of Alexandria. The unhappy Vigilius having assented to these conditions, the empress sent him to Rome, charged with a letter to the general Belisarius, commanding him to drive out Silverius and to contrive the election of Vigilius to the pontificate. Vigilius urged the general to execute the project. The more easily to carry out this project, the Pope was accused of corresponding with the enemy, and a letter was produced, which was pretended to have been written by him to the king of the Goths, inviting him into the city, and promising to open the gates to him. Silverius was banished to Patara, in Lycia. The bishop of that city received the illustrious exile with all possible marks of honor and respect; and thinking himself bound to undertake his defence, repaired to Constantinople, and spoke boldly to the emperor, terrifying him with the threats of the divine judgments for the expulsion of a bishop of so great a see, telling him, “There are many kings in the world, but there is only one Pope over the Church of the whole world.” It must be observed that these were the words of an Oriental bishop, and a clear confession of the supremacy of the Roman See. Justinian appeared startled at the atrocity of the proceedings, and gave orders that Silverius should be sent back to Rome, but the enemies of the Pope contrived to prevent it, and he was intercepted on his road toward Rome and carried to a desert island, where he died on the 20th of June, 538.

INTERCESSORY PRAYER:  Ask Saint Silverius to intercede for your needs today.

JUNE XX.

 ST. SILVERIUS, POPE, M.

[From Liberates in Breviar. c. 22, Conc. t. v. p. 775 ; Marcellinus in Chron. ad ann. 536; Anastasius in Pontif. Conc. t. v. ; Papebroke, t. iv. Junij, p. 13; and Muratori's Annals of Italy.]

BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS

 A.D. 538.

SILVERIUS was son of Pope Hormisdas, who had been engaged in wedlock before he entered the ministry. Upon the death of St. Agapetus, after a vacancy of forty-seven days, Silverius being then sub deacon, was chosen pope, and ordained on the 8th of June, 536, Theodatus, the Goth, being King of Italy. Theodoric had bequeathed that kingdom to his grandson, Athalaric, under the tuition of his mother, Amalasunta, a most wise and learned princess. Athalaric died in 534, after a reign of eight years, when Amalasunta called Theodatus, a nephew of her father, Theodoric, by a sister, to the throne; but the ungrateful king, jealous of his power, caused her to be confined in an island in the lake of Bolsena, and there strangled in a bath, before the end of the same year, 534. The, shocking barbarity of this action encouraged the Emperor Justinian to attempt the reduction of Italy. Belisarius, his general, had been successful in all his wars against rebels at home, the Persians in the East, and Gelimer the Vandal, in Africa, whom he had brought prisoner to Constantinople in 534; by which victory he extinguished the puissant kingdom of the Vandals, and reunited Africa to the empire, after it had been separated above one hundred years. By the emperor’s order in 535, being then consul, he marched with his victorious army against Italy. He that year made himself master of Sicily, and passing  thence into Italy in 536, took Naples. Upon which the Goths deposed Theodatus, and raised Vitiges, an experienced officer, to the throne. The senate and people of Rome, at the persuasion of Pope Silverius, opened the city to the imperialists, who entered by the Asinarian gate, whilst the Gothic garrison retired by the Flaminian towards Ravenna, where Vitiges had shut himself up.

    Theodora, the empress, a violent and crafty woman, seeing Justinian now master of Rome, resolved to make use of that opportunity to promote the sect of the Acephali, or most rigid Eutychian, who rejected the Council of Chalcedon ; and also the Henoticon of Zeno, which Petrus Mongus, the Eutychian Patriarch of Alexandria, had received, endeavouring in some degree to qualify that heresy. Anthimus, Patriarch of Constantinople, was violently suspected of abetting the Acephali, and by the credit of the empress had been translated, against the canons, from the see of Trapezus, or Trebisond, to  that of the imperial city. When Pope Agapetus came to Constantinople, in 536, he refused to communicate with Anthimus, because he could never be brought to own in plain terms two natures in Christ ; whereupon he was banished by Justinian; and St. Mennas, an orthodox holy man, was ordained Bishop of Constantinople by Pope Agapetus himself, who, by a circular letter notified, that “the heretical bishop had been deposed by the apostolic authority, with the concurrence and aid of the most religious emperor.” This affair gave the empress great uneasiness, and she never ceased studying some method of recalling Anthimus, till the taking of Rome offered her a favourable opportunity of attempting to execute her design. Silverius being then in her power, she endeavoured to win him over to her interest, and wrote to him, requiring that he would acknowledge Anthimus lawful bishop, or repair in person to Constantinople, and re-examine his cause on the spot. The good pope was sensible how dangerous a thing it was to oppose the favourite project of an empress of her violent temper; and said with a sigh, in reading her letter, that this affair would in the end cost him his life. However he, without the least hesitation or delay, returned her a short answer, by which he peremptorily gave her to understand that she must not flatter herself he either could or would come into her unjust measures, and betray the cause of the Catholic faith. The empress saw from the firmness of his answer, that she could never expect from him any thing favourable to her impious designs, and from that moment resolved to compass his deposition. Vigilius, arch-deacon of the Roman church, a man of address, was then at Constantinople, whither he had attended the late Pope Agapetus. To him the empress made her application, and finding him taken by the bait of ambition, promised to make him pope, and to bestow on him seven hundred pieces of gold, provided he would engage himself to condemn the Council of Chalcedon, and receive to communion the three deposed Eutychian patriarchs, Anthimus of Constantinople, Severus of Antioch, and Theodosius of Alexandria. The unhappy Vigilius, having assented to these conditions, the empress sent him to Rome, charged with a letter to Belisarius, commanding him to drive out Silverius, and to contrive the election of Vigilius to the pontificate. Belisarius was at first unwilling to have any hand in so unjust a proceeding; but after showing some reluctancy, he had the weakness to say, ” The empress commands ; I must therefore obey. He who seeks the ruin of Silverius shall answer for it at the last day —not I.”¹ Vigilius urged the general, on one side, to execute the project, and his wife Antonina on the other : she being the greatest confident of the empress, and having no less an ascendant over her husband than Theodora had over Justinian.

    (1) Anastas. in Pontif.

The more easily to make this project to bear, the enemies of the good pope had recourse to a new stratagem, and impeached him for high treason. Vitiges, the Goth, returned from Ravenna in 537, with an army of one hundred and fifty thousand men, and invested the city of Rome. The siege lasted a year and nine days, during which both Goths and Romans performed prodigies of valour ; but the latter defeated all the attempts and stratagems of the barbarians, and in the end obliged them to retire. The pope was accused of corresponding during the siege with the enemy ; and a letter was produced which was pretended to have been written by him to the King of the Goths, inviting him into the city, and promising to open the gates to him. Belisarius saw evidently this to be a barefaced calumny, and discovered the persons who had forged the said letter, namely Marcus, a lawyer, and Julianus, a soldier of the guards, who had both been suborned by the pope’s enemies. The general, therefore, dropped this charge of treason, but entreated the pope to comply with the will of the empress, assuring him he had no other means of avoiding the loss of his see, and the utmost calamities. Silverius always declared that he could never condemn the Council of Chalcedon, nor receive the Acephali to his communion. Upon leaving the general’s house, he fled for sanctuary to the basilic of the martyr St. Sabina ; but a few days after, by an artful stratagem of Belisarius, was drawn thence, and summoned to repair to the Pincian palace, where the general resided during the siege. He was admitted alone, and his clergy, whom he left at the door, saw him no more. Antonina received him sitting upon her bed, whilst Belisarius was seated at her feet; she loaded him with reproaches, and immediately a subdeacon tore the pall off his shoulders. He was then carried into another room, stripped of all his pontifical ornaments, and clothed with the habit of a monk.  After this it was proclaimed that the pope was deposed, and become a monk. Belisarius, the next day, caused Vigilius to be chosen pope, and he was ordained on the 22nd of November, 537. In the mean time, Silverius was conducted into banishment to Patara, in Lycia. The bishop of that city received the illustrious exile with all possible marks of honour and respect; and thinking himself bound to undertake his defence, soon after the pope’s arrival repaired to Constantinople, and having obtained a private audience, spoke boldly to the emperor, terrifying him with the threats of the divine judgments for the expulsion of the bishop of so great a see, telling him, “There are many kings in the world ; but there is only one pope over the church of the whole world.” It must be observed that these were the words of an oriental bishop, and a clear confession of the supremacy of the Roman see. Justinian, who had not been sufficiently apprized of the matter, appeared startled at the atrocity of the proceedings, and gave orders that Silverius should be sent back to Rome, and in case he was not convicted of the treasonable intelligence with the Goths, that he should be restored to his see; but, if found guilty, should be removed to some other see. Belisarius and Vigilius were uneasy at this news; and foreseeing that if the order of the emperor was carried into execution, the consequence would necessarily be the restoration of Silverius to his dignity, they contrived to prevent it, and the pope was intercepted in his road towards Rome. His enemies saw themselves again masters of his person; and Antonina resolving at any rate to gratify the empress, prevailed with Belisarius to deliver up the pope to Vigilius, with full power to secure him as he should think fit. The ambitious rival put him into the hands of two of his officers, called the defenders of the church who conveyed him into the little inhospitable island of Palmaria, now called Palmeruelo, over against Terracina, and near two other abandoned desert islands, the one called Pontia, now Ponza ; and the other Pandataria, now Vento Tiene. In this place Silverius died in a short time of hard usage–Liberatus, from hear-say, tells us of hunger; but Procopius, a living witness, says he was murdered, at the instigation of Antonina, by one Eugenia, a woman devoted to their service. The death of Pope Silverius happened on the 20th of June, 538. Vigilius was an ambitious intruder, and a schismatic so long as St. Silverius lived; but after his death became lawful pope by the ratification or consent of the Roman church, and from that time renounced the errors and commerce of the heretics. He afterwards suffered much for his steadfast adherence to the truth; and though he entered as a mercenary and a wolf, he became the support of the orthodox faith. The providence of God in the protection of his church never appears more visible than when he suffers tyrants or scandals seemingly almost to overwhelm it. Then does he most miraculously interpose in its defence, to show that nothing can make void his promises. Neither scandals nor persecutions can make his word fail, or overcome the church which he planted at so dear a rate. He will never suffer the devil to wrest out of his hands the inheritance which his Father gave him, and that kingdom which it cost him his most precious blood to establish, that his Father might always have true adorers on earth, by whom his name shall be for ever glorified. In the tenth century, by the power and intrigues of Marozia, wife to Guy, Marquis of Tuscany, and her mother and sister, both called Theodora, three women of scandalous lives, several unworthy popes were intruded into the apostolic chair, and ignorance and scandals gained ground in some parts. Yet at that very time many churches were blessed with pastors of eminent sanctity, and many saints preached penance with wonderful success; nor did any considerable heresy arise in all that century. Pride, indeed, and a conceit of learning, are the usual source of that mischief. But this constant conservation of the church can only be ascribed to the singular protection of God, who watches over his church, that it never fail.

(SUMBER :http://www.jesus-passion.com)/saint_silverius_pope_and_martyr.htm/saint_silverius_pope_and_martyr.htm

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

INFO KESEHATAN

Juni 25, 2011 at 1:18 pm (Uncategorized)

Khasiat Sirsak (1/4): Daun Sirsak Lebih Kuat 10.000 Kali Daripada Kemoterapi

Posted by maramis setiawan ⋅ Januari 21, 2011 ⋅

Trubus Online

‘Selamat ya, sudah hamil.’ Yanti Sumiati bertubi-tubi menerima ucapan itu dari rekan kerja, tetangga, dan saudara pada Mei 2010. Perutnya membesar. Banyak orang menerka ia hamil 5 bulan. Hati Yanti justru remuk‑redam. Sebab, bukan janin dalam kandungan, tetapi kanker serviks yang merenggut nyawa seorang perempuan setiap 4 menit.

Yanti Sumiati mengetahui kanker serviks itu ketika ia memeriksakan diri di sebuah klinik di Warungbuncit, Kotamadya Jakarta Selatan. Bagian bawah perut sakit, ‘Seperti ditusuk-tusuk, nyeri sekali,’ kata perempuan kelahiran Bogor, Jawa Barat, 20 Agustus 1978 itu. Rasa sakit menjalar ke kaki kiri. Kondisi itulah yang mendorong Yanti bergegas ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr Slamet Zaeny SpOG, pada 6 Mei 2010.

Dokter yang memindai Yanti menggeleng-gelengkan kepala. ‘Lihat di monitor, kankernya sebesar kepala bayi,’ kata dr Slamet Zaeny SpOG seperti diulangi oleh Yanti. Kadar CA – indikator adanya sel kanker – 113,39 U/ml; normal, kurang dari 35 U/ml. Sambil berbaring, ia memandangi layar pemindai. Dokter menyarankan Yanti menjalani operasi.

Namun, anak ke-3 dari 6 bersaudara itu memilih jalan lain. Sebab, sebelum pemeriksaan itu pada April 2008 ia menjalani operasi untuk mengatasi kista. Namun, 2 tahun berselang ia terserang kanker serviks. Gejala munculnya kista sama persis dengan kanker serviks itu.

Perempuan 32 tahun itu memilih pengobatan herbal. Ia mendatangi herbalis dan diberi 3 jenis herba dalam kapsul untuk sebulan. Sayang, Yanti yang membayar Rp9-juta tak mengetahui jenis tanaman obat yang ia konsumsi. Batal operasi Yanti disiplin mengonsumsi 3 kapsul herba itu 3 kali sehari. Namun, tanda-tanda kesembuhan tak kunjung muncul. Malahan perut kian membesar dan nafsu makan hilang.

Warga Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasarminggu, Jakarta Selatan, itu juga mengalami insomnia dan merasa serbasalah: miring ke kiri sel kanker yang membesar ikut ke kiri, ke kanan, turut ke kanan. Keadaan itu menyebabkan Yanti memutuskan untuk menjalani operasi pada 10 Agustus 2010.

Sehari sebelumnya, ia menemui kedua orangtuanya di Ciampea, Kabupaten Bogor. Ketika itulah Yanti berjumpa dengan tetangganya, pendiri Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ervizal AM Zuhud MS. Zuhud mempunyai informasi tentang khasiat daun sirsak dari beberapa hasil penelitian di mancanegara.

Guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu menyarankan agar Yanti mengonsumsi daun sirsak. Keesokan harinya, Yanti membatalkan operasi dan merebus 10 lembar daun sirsak segar dalam 3 gelas air hingga mendidih. Setelah rebusan dingin, ia meminumnya. Frekuensi 3 kali sehari masing-masing segelas.

Istri Fery Firmansyah itu juga menyantap daging buah sirsak sekali sehari. Ia memotong 4 bagian buah berukuran sedang, bobot 6 – 7 ons. Sepotong buah Annona muricata cukup untuk sehari.

Pada 24 Agustus 2010, ia kaget bukan kepalang ketika mudah menarik risleting dan mengancingkan celana. Semula bukan hal gampang untuk mengenakan celana akibat perut yang kian membesar. Ia benar-benar baru sadar bahwa perut mengempis. Pagi itu ia mencoba tidur, tetapi perutnya tanpa gelambir seperti sebelumnya. Ia miring ke kiri dan ke kanan beberapa kali, tetapi tak ada gumpalan dalam perut yang mengikuti gerakan seperti sebelumnya.

‘Saya menangis karena saking senangnya,’ kata perempuan yang menikah pada 2007 itu. Sembuh? Begitulah dugaan Yanti.

Sebulan berselang ia menemui dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Hasil pemindaian menunjukkan tak ada lagi berjalan di serviks. Menurut dokter sekaligus herbalis di Jakarta Timur, dr Willie Japaries MARS, hilangnya sel kanker dari serviks Yanti dapat melalui berbagai jalan seperti luruh bersama urine atau feses.

Namun, menurut Yanti selama 14 hari konsumsi daun dan buah sirsak hingga perut mengempis, tak ada perubahan warna atau bentuk feses dan urine.Japaries mengatakan cara lain detoksifikasi adalah melalui keringat. ‘Pikiran saya lepas. Saya senang banget,’ katanya dengan wajah berbinar.

Setelah perutnya mengempis, Yanti lahap setiap kali makan sehingga tubuh kian segar. Insomnia juga sirna sehingga kini ia bisa tidur nyenyak. Meski begitu hingga kini ia tetap mengonsumsi segelas rebusan daun sirsak sekali sehari.

Perubahan kondisi perut yang semula seperti perempuan hamil lalu mengempis hanya dalam 2 pekan itu sangat cepat. Semula Zuhud memprediksi, perubahan itu baru tercapai setelah 3 bulan Yanti rutin mengonsumsi daun kerabat srikaya itu. Prediksi 90 hari itu berdasarkan informasi yang ia peroleh di internet.

Yanti Sumiati bukan satu-satunya yang merasakan khasiat daun anggota famili Annonaceae. Contoh lain, Sri Haryanto di Yogyakarta yang mengidap kanker prostat dan Yulisnawati (kanker payudara di Palembang, Sumatera Selatan).

Dokter juga menyarankan operasi pada Yulisnawati. Namun, ia lebih memilih mengonsumsi rebusan segelas daun sirsak 3 kali sehari. Dua bulan berselang, kondisi kesehatannya kian membaik. Yulisnawati belum mengecek ulang kondisi kanker.

Pada kasus Haryanto, dokter tak menyarankan operasi karena usia pasien lanjut, 70 tahun. Haryanto yang juga herbalis itu mengonsumsi jus buah sirsak (baca: Sirsak Stop Kanker Prostat, halaman 18) Selain ke-3 jenis kanker – serviks, payudara, dan prostat, daun sirsak juga terbukti secara ilmiah mengatasi antara lain kanker paru-paru, ginjal, pankreas, dan usus besar.

Begitulah hasil riset peneliti di Sekolah Farmasi Purdue University, Indiana, Amerika Serikat, Jerry L McLaughlin. Peneliti yang memperoleh daun sirsak dari Garut, Jawa Barat, itu membuktikan bahwa daun Annona muricata manjur mengatasi 7 sel kanker.

Daun sirsak yang selama ini terabaikan itu ternyata mujarab mengganyang sel kanker. Ada apa di balik itu? Peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD yang meriset daun sirsak bersama Jerry L McLaughlin menemukan senyawa aktif acetogenins.

Mereka melakukan uji praklinis dengan memanfaatkan beragam sel kanker seperti sel kanker paru-paru dan pankreas. ‘Tujuan penelitian, mengembangkan ilmu pengobatan untuk mengatasi kanker,’ kata doktor Biologi alumnus Champaign Urbane University, Amerika Serikat, itu.

Acetogenins menghambat ATP kanker ‘Acetogenins menghambat ATP (adenosina trifosfat, red). ATP sumber energi di dalam tubuh. Sel kanker membutuhkan banyak energi sehingga membutuhkan banyak ATP,’ kata Sastrodihardjo. Acetogenins masuk dan menempel di reseptor dinding sel dan merusak ATP di dinding mitokondria. Dampaknya produksi energi di dalam sel kanker pun berhenti dan akhirnya sel kanker mati.

Hebatnya acetogenins sangat selektif, hanya menyerang sel kanker yang memiliki kelebihan ATP. Senyawa itu tak menyerang sel-sel lain yang normal di dalam tubuh. ‘Acetogenins mengganggu peredaran sel kanker dengan cara mengurangi jumlah ATP.

Hal ini yang membuat senyawa dalam daun sirsak dianggap selektif dan hanya memilih sel kanker untuk diserang,’ kata Sastrodihardjo. Bukan hanya selektif, acetogenins juga dahsyat!

The Journal of Natural Product membeberkan riset Rieser MJ, Fang XP, dan McLaughlin, peneliti di AgrEvo Research Center, Carolina Utara, Amerika Serikat, bahwa daun sirsak membunuh sel-sel kanker usus besar hingga 10.000 kali lebih kuat dibanding adriamycin dan kemoterapi.

Adriamycin yang mempunyai nama generik doxorubicin merupakan obat untuk mengatasi berbagai jenis kanker seperti leukemia, kanker prostat, kanker paru-paru, dan kanker pankreas.

Sedangkan kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memasukkan zat atau obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker.

Menurut peneliti di Cancer Chemoprevention Research Center Universitas Gadjah Mada (CCRC–UGM), Nur Qumara Fitriyah, riset McLaughlin menunjukkan dengan dosis kecil saja, daun sirsak efektif memberangus sel kanker.

Berdasarkan riset McLaughlin ED50 ekstrak kasar daun sirsak < 20 µg/ml, sedangkan ED50 senyawa murni cuma < 4 µg/ml. Artinya dengan dosis rebusan 10 – 15 daun sirsak masih aman dikonsumsi.

Menurut Ervizal AM Zuhud penelitian sirsak sempat ditutupi-tutupi selama 10 tahun karena ‘mengancam’ kelangsungan hidup kemoterapi dan industri kimia. Apalagi harga sirsak murah.

Hasil penelitian itu, ‘Baru tersebar setelah keluarga dari seorang peneliti mengidap kanker dan mempublikasikan di dunia maya,’ kata kepala Bagian Konservasi dan Keanekaragaman Tanaman, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, itu.

Berbagai lembaga riset di tanahair juga mulai menguak rahasia daun sirsak dan kerabatnya. Sekadar menyebut contoh, periset di Pusat Studi Biofarmaka IPB, Prof Dr Latifah K Darusman, hingga kini meriset komponen kimia yang dominan di daun sirsak.

Sedangkan peneliti di Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Sismindari, meriset khasiat biji dan daun srikaya yang kaya ribosome inactivating protein (RIP). ‘RIP mampu merusak sintesis protein pada sel yang sedang tumbuh sehingga mati,’ kata Sismindari.

Konsumsi daun sirsak bukan hanya untuk para pasien, tetapi juga baik bagi orang sehat. Menurut Ervizal AM Zuhud, kasiat daun sirsak bagi orang sehat, ‘Menambah kekebalan tubuh dan mencegah asam urat. Bagi pria, daun sirsak menambah jumlah dan memperkuat sperma.’

Di Indonesia kini para dokter dan herbalis meresepkan daun sirsak kepada para pasien. Ada yang meresepkan secara tunggal – hanya daun sirsak, tetapi ada pula yang meracik kombinasi daun sirsak dengan herbal lain seperti rimpang temuputih dan sambiloto.

Mereka meresepkan daun sirsak antara lain untuk mengatasi beragam kanker. Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana meresepkan daun atau buah sirsak terutama sebagai pengganti kemoterapi pada pasien kanker. ‘Khasiat daun atau buah sirsak itu untuk mengeliminasi radikal bebas, mengeringkan sel kanker, menyembuhkan peradangan di dalam tubuh, dan terutama meningkatkan stamina pasien agar tubuh tidak lemah,’ kata Lina Mardiana.

Para dokter dan herbalis seperti Valentina Indrajati di Bogor, Jawa Barat, memilih daun yang sedang – tak terlalu tua dan tak terlampau muda. Dari pucuk, kira-kira daun di baris ke-4 hingga ke-6. Dari pucuk, kira-kira daun di baris ke-4 hingga ke-6.

Para herbalis meresepkan daun sirsak bukan melulu untuk mengatasi sel kanker. Herbalis di Gegerkalong, Kotamadya Bandung, Jawa Barat, H Sarah Kriswanty, misalnya, meresepkan daun sirsak untuk mengatasi bronkhitis dan kejang.

Sedangkan Lina Mardiana meresepkan daun sirsak untuk pasien yang menderita peradangan, misalnya radang tenggorokan, usus, pencernaan, ambeien (baca: Sentosa Karena Graviola halaman 24).

Menurut dr Willie Japaries MARS yang juga meresepkan daun sirsak, daun Annona muricata bersifat netral sehingga sesuai untuk mengatasi beragam jenis kanker. Herbalis lain yang juga meresepkan daun sirsak antara lain dr Prapti Utami di Jakarta Selatan dan Maria Andjarwati (Kelapagading, Jakarta Utara.

Para herbalis dan dokter itu sebagian besar meresepkan daun sirsak baru pada 2 – 4 tahun silam. Pada umumnya mereka tak meracik, tetapi pasien yang menyiapkan sendiri sejak pencarian daun hingga merebus. Harap mafhum hingga saat ini di pasaran belum tersedia ekstraksi daun sirsak dalam kapsul seperti kapsul bermerek Graviola yang beredar di mancanegara.

Oleh karena itu, mereka mempersiapkan sendiri. Pasien yang belum memiliki pohon biasanya membeli bibit sirsak. Dampaknya permintaan bibit juga meningkat. Produsen bibit buah-buahan di Pontianak, Kalimantan Barat, Simbul Haryadi mengatakan permintaan bibit sirsak pada September 2010 mencapai 400 bibit.

Padahal, biasanya hanya 10 bibit per bulan. ‘Stok bibit di kebun sampai habis, sekarang saya sedang memperbanyak lagi,’ kata Haryadi. Begitu juga permintaan di nurseri Tebuwulung milik Eddy Soesanto di Cijantung, Jakarta Timur, yang mencapai 600 – 700 bibit per bulan. Lonjakan permintaan signifikan itu terjadi dalam 4 bulan terakhir.

Produsen bibit buah di Bogor, Jawa Barat, Syahril sama juga. Permintaan bibit durian belanda itu fantastis, sejak Agustus 2010 mencapai 3.000 – 5.000 tanaman per bulan; sebelumnya, 500 bibit per bulan. Harga bibit setinggi 40 – 50 cm di berbagai penangkar Rp20.000 – Rp30.000.

Menurut para penangkar tingginya permintaan bibit sirsak berkaitan dengan pemanfaatan daun atau buah sebagai obat tradisional. Benar kata Yeni Sumarni yang juga mengonsumsi daun sirsak, ‘Obat kanker itu ternyata murah meriah, kita tak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah.’ (Sardi Duryatmo/Peliput: Endah Kurnia Wirawati, Lastioro Anmi Tambunan, & Tri Susanti)

Penawar Agar-agar Agar-agar sebagai penawar

Pada hari pertama konsumsi rebusan daun sirsak, Yanti Sumiati tak merasakan perubahan berarti. Baru pada hari ke-2, ia berkeringat dingin. Bagian punggung panas sekali. Ia menggigil. Selain itu perut juga perih. ‘Rasanya saya ingin menyilet perut sendiri dan melihat bagian dalam ada apa sih?’ kata perempuan 32 tahun itu mengenang.

Pada hari ke-3 konsumsi, kejadian itu terulang lagi. Punggungnya malah kian panas sehingga Yanti berendam diri di bak mandi untuk meredakannya. Yulisnawati di Palembang, Sumatera Selatan, yang mengidap kanker payudara dan mengonsumsi daun sirsak mengalami hal sama.

Ia merasakan panas dan nyeri di bagian payudara. Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati (46 tahun), menemukan fakta serupa. Banyak pasiennya yang menghubungi Valentina pada hari ke-2 atau ke-3 pascakonsumsi daun sirsak. Mereka mengeluhkan panas dingin seperti keluhan Yanti. ‘Tapi tak semua pasien begitu, pada umumnya pasien-pasien kanker,’ kata herbalis yang meresepkan daun sirsak sejak 2006 itu.

Pasien nonkanker tak menghadapi keluhan seperti itu. Menurut pendiri Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ervizal AM Zuhud MS, tubuh panas dingin merupakan indikasi obat sedang bereaksi. Oleh karena itu ia menyarankan agar pasien meneruskan konsumsi daun sirsak. Pada hari ke-3 hingga kini, gejala seperti itu tak pernah muncul.

Herbalis lain, Lina Mardiana juga mendapat laporan serupa dari para pasien. Untuk mengatasi hal itu, Mardiana menyarankan agar mereka merebus agar-agar hingga mendidih dan meminumnya ketika dingin. Panas dingin itu hanya berlangsung 2 hari. Pada hari-hari berikutnya pasien akan merasa nyaman.

(Sardi Duryatmo) sumber: Majalah Trubus Online

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SEBUAH RENUNGAN

Juni 22, 2011 at 4:39 am (Uncategorized)

Lowongan kerja: Petugas Telegram

oleh Hidup Baru pada 22 Juni 2011 jam 10:41

Dahulu sekali, sebelum ada internet, telepon, dan alat komunikasi lain, peran telegram sangat penting bagi kehidupan manusia.

Suatu saat pada zaman itu, perusahaan telegram sedang membutuhkan tambahan tenaga untuk operator telegraf. Mereka memberitakannya di seluruh sudut kota. Tentu saja, untuk menjadi operator mesin tersebut dibutuhkan kemahiran dalam menerima dan mengirimkan pesan dalam bentuk sandi morse.

Akhirnya hari wawancara pun tiba. Di perusahaan tersebut, terlihat sedikitnya ada 10 orang yang sedang menunggu panggilan wawancara. Mereka datang pada pagi hari, mengisi formulir yang disediakan, menyerahkannya pada sekretaris, dan kemudian menunggu panggilan wawancara. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang satu sama lain, di tengah bunyi-bunyi mesin telegraf dng sandi morse-nya.

Pada siang hari, datanglah seorang pemuda. Ia berpakaian seperti layaknya para pelamar yg lain. Ia kemudian mengisi formulir yang disediakan, menyerahkannya pada sekretaris, dan kemudian duduk menunggu panggilan wawancara. Perbedaannya, ia tidak kemudian tenggelam dalam pembicaraan dengan pelamar lain, namun tetap fokus pada pikirannya sendiri.

Tak berapa lama, bangkitlah pemuda ini dari duduknya, dan tanpa ragu langsung memasuki ruangan wawancara, meninggalkan para pelamar lain yang heran melihat aksinya.

“Apa-apaan dia? Bahkan kita yang datang lebih awal belum berani untuk masuk.” Kata seorang pelamar. “Tidak ada panggilan apa-apa. Kenapa ia nekat masuk?” Kata yg lain. “Ya sudah. Biarkan saja. Toh pewawancara akan memarahinya karena kelancangannya, dan berkuranglah satu kompetitor kita.” Kata seorang pelamar, dan pelamar yg lain pun setuju atas pendapatnya. Mereka pun tak lagi mengacuhkan si pemuda.

Tiba-tiba pintu ruang wawancara terbuka. Keluarlah si pemuda diikuti pewawancara. Pewawancara kemudian berkata : “tuan-tuan yang terhormat, terima kasih telah datang dan menunggu untuk wawancara. Namun tampaknya saya harus memberitahukan bahwa pekerjaan tersebut tidak lagi kosong, karena pemuda inilah yang akan mengisinya…”

Spontan seluruh pelamar yang lain menggerutu dan protes… “Tunggu sebentar… Kami sudah ada di sini lebih lama dari pemuda ini. Kami sudah menunggu lebih lama darinya. Dan kami juga tidak selancang dia yang tiba-tiba masuk tanpa adanya pemberitahuan apapun dari sekretaris anda. Dan bahkan, kami tidak diberi kesempatan untuk diwawancara?? Tolong beri penjelasan, dan kami butuh itu!”

Pewawancara dengan tenang menjelaskan.. “Tahukah tuan-tuan, bahwa sejak pagi tuan-tuan ada di ruang tunggu ini, saya sudah memberikan pengumuman, ‘kepada siapa saja yang mau ikut wawancara, silakan masuk ke ruang wawancara’? Namun, tentu saja saya mengirimnya DENGAN SANDI MORSE, karena untuk itulah anda berada di sini… Namun sayangnya tuan-tuan tidak mendengarkan secara seksama. Hanya pemuda inilah yang cukup jeli mendengarkan panggilan wawancara tersebut, dan karena itulah ia diterima.”

Saudaraku, cerita diatas menggambarkan hidup kita. Terkadang, kita memang mengharapkan suara Tuhan. Kita memang membuka telinga kita dan menunggu Tuhan berbicara…

Namun, kita hanya mengharapkan, Tuhan berbicara lewat suatu yang spektakuler. mengharapkan Tuhan berbicara lewat semak yang terbakar, lewat air bah yang meluluhlantakkan bumi, lewat mukjizat, lewat gempa, dan banyak hal dahsyat lainnya.

Tapi jangan lupa, bahwa Tuhan juga bicara di dalam angin sepoi-sepoi basa. Tuhan juga bisa pakai atasan kita, kolega kita, bahkan bawahan kita untuk menegur kita. Tuhan juga bisa pakai hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita, untuk mengingatkan kita akan kasihNya yang tak berkesudahan. Tuhan bisa pakai apapun.

Yang kita perlukan hanyalah tetap fokus padaNya. Jangan biarkan pikiran kita tenggelam dalam perbincangan duniawi di ruang tunggu. Biarlah mata dan hati kita hanya tertuju padaNya, biar kita dapat mendengar suaraNya, di tengah kebisingan suara dunia…

Tuhan Memberkati

sumber : tak diketahui

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.